“Kita ingin membangun NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat. Berdaulat berarti mampu berdiri di atas kekuatan sendiri. Bermartabat berarti menjaga marwah ulama, pesantren dan amanah organisasi. Bermanfaat berarti program NU benar-benar dirasakan jamaah dan masyarakat,” kata Gus Rozin.
Menurut Gus Rozin, upaya mengembalikan marwah NU tidak cukup dilakukan melalui slogan. Marwah harus dibangun melalui keteladanan, integritas, keluasan ilmu, akhlak, tata kelola organisasi yang sehat, serta keberpihakan kepada jamaah.
Dia menekankan pentingnya memastikan seluruh aset dan sumber daya organisasi dikelola secara amanah dan akuntabel.
Dengan tata kelola yang baik, kata Gus Rozin, PBNU dapat memperkuat kapasitas PWNU dan PCNU, termasuk wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan sumber daya.
Dengan demikian, aspirasi dari Bali dan NTT menjadi bagian dari agenda lebih besar Gus Rozin untuk membawa NU memasuki abad kedua sebagai jam'iyyah yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat, serta tetap menjadi rumah besar masyarakat sipil keagamaan bagi seluruh warga NU.
“Kepemimpinan harus menjadi jalan untuk memperkuat jam'iyyah, menjaga ukhuwah, dan menghadirkan manfaat bagi jamaah,” pungkasnya.
(Fahmi Firdaus )