Korban Tewas Gempa Kolombia Melonjak Menjadi 224 Orang, Tim Penyelamat Lanjutkan Pencarian

Rahman Asmardika, Jurnalis
Rabu 12 Agustus 2026 10:49 WIB
Puing bangunan yang runtuh akibat gempa di Kolombia. (Foto: Reuters)
Share :

BOGOTA — Jumlah korban tewas akibat gempa bumi dahsyat yang meratakan puluhan bangunan di wilayah barat Kolombia melonjak menjadi 224 orang, demikian disampaikan pihak berwenang setempat pada Selasa (11/8/2026). Petugas darurat terus mencari korban selamat di antara reruntuhan.

Gempa bermagnitudo 7,4—yang terkuat melanda negara Amerika Selatan tersebut dalam beberapa dekade terakhir—mengguncang kawasan penghasil kopi utama Kolombia pada Senin (10/8/2026) dini hari, mengubah bangunan bertingkat menjadi puing-puing di kota-kota seperti Pereira dan Cali, serta menyebabkan salah satu menara katedral di kota Manizales runtuh.

Tim darurat yang dibantu oleh polisi, tentara, dan sukarelawan bekerja sepanjang malam menggunakan ekskavator—dan terkadang dengan tangan kosong—untuk mencari korban selamat di bawah reruntuhan.

José Fernando Usma, kepala tim pencarian dan penyelamatkan Palang Merah Kolombia cabang Quindio, mengatakan bahwa tim penyelamat telah mendeteksi suara dan sejumlah tanda yang mengindikasikan adanya korban selamat di bawah reruntuhan; mereka kini sedang memeriksa struktur bangunan yang rusak serta menyingkirkan puing-puing untuk menjangkau orang-orang yang terjebak di bagian dalam.

"Kami masih memiliki rentang waktu yang cukup panjang. Kami memiliki waktu sekitar 24 jam lagi untuk menaruh harapan akan adanya kehidupan," ujarnya, sebagaimana dilansir Reuters.

Di Cali, kota dengan populasi sekitar 2,2 juta jiwa, setidaknya 95 orang tewas.

Puluhan bangunan rusak parah hingga miring dalam posisi yang membahayakan atau hancur total, memaksa warga turun ke jalan.

 

Beberapa lantai teratas salah satu rumah sakit di kota itu—termasuk bangsal perawatan anak—runtuh menimpa bagian bawahnya; kejadian ini menyebabkan sejumlah pasien terjebak dan memaksa sekitar 600 pasien lainnya dirawat di jalanan yang dipenuhi puing-puing, demikian disampaikan Direktur rumah sakit tersebut, Irne Torres Castro, kepada stasiun televisi Caracol.

Carmen Yasmin Garcia, 43 tahun, seorang warga Cali yang menjadi sukarelawan bersama tim penyelamat, mengatakan pada Senin sore bahwa kelompoknya telah berhasil mengeluarkan tujuh orang dari bangunan yang runtuh, namun empat orang lainnya serta seekor anjing masih terjebak.

"Sesaat yang lalu terdengar suara cakaran, tetapi sekarang kami tidak mendengar apa-apa lagi. Kami masih yakin bahwa anjing itu masih hidup dan kami bisa mengeluarkan orang-orang tersebut," ujar Garcia. "Kami membutuhkan orang-orang yang membawa tongkat dan sekop; semakin banyak orang yang membantu, semakin baik."

Di Pereira, ibu kota wilayah Risaralda yang terdampak parah, pihak berwenang melaporkan 72 korban jiwa, sementara pejabat di wilayah tetangga Valle del Cauca—yang mencakup Cali—melaporkan 38 korban jiwa.

Pereira juga mengalami kerusakan yang paling parah terlihat, di mana seluruh blok permukiman hancur lebur menjadi tumpukan beton dan besi yang terpelintir.

Video yang diunggah di media sosial dan diverifikasi oleh Reuters memperlihatkan bandara kota tersebut berguncang hebat saat gempa terjadi, dengan bongkahan besar langit-langit runtuh ketika orang-orang berusaha mencari perlindungan.

Sebanyak 13 orang lainnya tewas di Chocó, provinsi pedesaan yang letaknya paling dekat dengan pusat gempa.

 

Pasukan keamanan dikerahkan ke Cali

Presiden Abelardo De La Espriella, yang baru menjabat beberapa hari lalu, mengatakan bahwa 1.000 personel pasukan keamanan akan dikerahkan ke Cali menjelang fajar menyusul laporan adanya penjarahan. Baik Cali maupun Pereira telah memberlakukan jam malam pada Senin malam.

"Niat kami adalah untuk bekerja sama dengan cara apa pun yang diperlukan. Di sini, tidak ada perbedaan atau perpecahan ideologis dalam hal membela rakyat kita atau menunjukkan solidaritas," ujar De La Espriella kepada para wartawan pada Senin malam.

Bencana ini memicu perbandingan dengan gempa bumi mematikan tahun 1999 yang meluluhlantakkan wilayah penghasil kopi yang sama dan menewaskan lebih dari 1.000 orang, serta dengan gempa dahsyat yang menewaskan lebih dari 6.300 orang di negara tetangga, Venezuela, pada bulan Juni.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya