CATANIA - Erupsi berkepanjangan dari Gunung Berapi Etna telah memicu gangguan penerbangan terparah di Sisilia dalam dua dekade. Krisis ini menyebabkan ratusan penerbangan dibatalkan dan ribuan orang terlantar di tengah puncak musim liburan musim panas.
Etna, gunung berapi tertinggi dan paling aktif di Eropa, telah meletus terus-menerus sejak 6 Agustus, memuntahkan pancuran lava, aliran lava baru, dan emisi abu yang tak kunjung reda. Para ahli memperkirakan aktivitas ini dapat berlangsung berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.
Abu vulkanik menjadi penyebab gangguan terbesar, di mana perubahan arah angin membawanya menuju Bandara Catania-Fontanarossa, yang terletak sekitar 30 km di selatan Etna. Pada Selasa (18/8/2026) pihak bandara memperpanjang pembatasan akibat "aktivitas erupsi Etna dan emisi abu vulkanik yang terjadi secara bersamaan," yang membatasi jumlah kedatangan hingga sepuluh penerbangan per jam. Dalam beberapa hari terakhir, batas tersebut bahkan turun menjadi lima penerbangan karena perubahan arah angin berulang kali memaksa dilakukannya revisi jadwal demi mematuhi prosedur keselamatan.
Catania adalah bandara tersibuk di Sisilia dan keenam tersibuk di Italia. Operatornya, Società Aeroporti Catania (SAC), menyebut gangguan ini sebagai "situasi darurat tersulit dalam 20 tahun terakhir". Menurut SAC, antara tanggal 6 dan 12 Agustus, 36% dari sekitar 1.974 jadwal kedatangan dibatalkan, sementara sekitar 630 penerbangan masuk dialihkan. Hingga 13 Agustus, hampir 800 penerbangan telah dibatalkan, sehingga mengganggu perjalanan puluhan ribu penumpang.
Erupsi yang sedang berlangsung ini tergolong istimewa karena durasinya yang panjang. Salvo Gambino, direktur Observatorium Etna di Institut Nasional Geofisika dan Vulkanologi (INGV) Italia, mengatakan bahwa aktivitas serupa biasanya hanya berlangsung selama beberapa jam hingga setengah hari.
"Dalam kasus ini, kita menyaksikan... aktivitas yang terus-menerus selama berhari-hari. Fenomena serupa pernah terjadi pada akhir tahun 1970-an," ujar Gambino kepada Euronews.
Beberapa bagian Gunung Etna juga menunjukkan aktivitas secara bersamaan, dengan adanya semburan lava dan emisi abu di kawah Voragine, serta aliran lava yang berasal dari sejumlah lubang letusan di Valle del Bove. Sebuah lubang letusan baru muncul di sisi timur pada Senin, (17/8/2026) meskipun INGV menyatakan bahwa aliran lava tersebut saat ini tidak mengancam kawasan permukiman.
Departemen Perlindungan Sipil Italia telah menetapkan status siaga kuning—tingkat kedua dari empat tingkatan status—untuk Gunung Etna sejak 26 Juni. Kendati pengawasan diperketat dan pembatasan diberlakukan, terutama di area ketinggian, erupsi ini tetap menarik banyak pengunjung, yang menyebabkan kemacetan serta penutupan sejumlah jalur pendakian. Layanan penyelamatan setempat juga mengimbau masyarakat untuk berhati-hati menyusul beberapa insiden yang memerlukan penanganan darurat.
(Rahman Asmardika)