Erupsi Gunung Berapi Etna Picu Krisis Terburuk di Sisilia dalam Dua Dekade

Rahman Asmardika, Jurnalis
Kamis 20 Agustus 2026 11:23 WIB
Asap keluar dari Gunung Etna di Sisilia, Italia, Juni 2025. (Foto: AP)
Share :

CATANIA - Erupsi berkepanjangan dari Gunung Berapi Etna telah memicu gangguan penerbangan terparah di Sisilia dalam dua dekade. Krisis ini menyebabkan ratusan penerbangan dibatalkan dan ribuan orang terlantar di tengah puncak musim liburan musim panas.

Etna, gunung berapi tertinggi dan paling aktif di Eropa, telah meletus terus-menerus sejak 6 Agustus, memuntahkan pancuran lava, aliran lava baru, dan emisi abu yang tak kunjung reda. Para ahli memperkirakan aktivitas ini dapat berlangsung berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.

Abu vulkanik menjadi penyebab gangguan terbesar, di mana perubahan arah angin membawanya menuju Bandara Catania-Fontanarossa, yang terletak sekitar 30 km di selatan Etna. Pada Selasa (18/8/2026) pihak bandara memperpanjang pembatasan akibat "aktivitas erupsi Etna dan emisi abu vulkanik yang terjadi secara bersamaan," yang membatasi jumlah kedatangan hingga sepuluh penerbangan per jam. Dalam beberapa hari terakhir, batas tersebut bahkan turun menjadi lima penerbangan karena perubahan arah angin berulang kali memaksa dilakukannya revisi jadwal demi mematuhi prosedur keselamatan.

Catania adalah bandara tersibuk di Sisilia dan keenam tersibuk di Italia. Operatornya, Società Aeroporti Catania (SAC), menyebut gangguan ini sebagai "situasi darurat tersulit dalam 20 tahun terakhir". Menurut SAC, antara tanggal 6 dan 12 Agustus, 36% dari sekitar 1.974 jadwal kedatangan dibatalkan, sementara sekitar 630 penerbangan masuk dialihkan. Hingga 13 Agustus, hampir 800 penerbangan telah dibatalkan, sehingga mengganggu perjalanan puluhan ribu penumpang.

Erupsi yang sedang berlangsung ini tergolong istimewa karena durasinya yang panjang. Salvo Gambino, direktur Observatorium Etna di Institut Nasional Geofisika dan Vulkanologi (INGV) Italia, mengatakan bahwa aktivitas serupa biasanya hanya berlangsung selama beberapa jam hingga setengah hari.

"Dalam kasus ini, kita menyaksikan... aktivitas yang terus-menerus selama berhari-hari. Fenomena serupa pernah terjadi pada akhir tahun 1970-an," ujar Gambino kepada Euronews.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya