Perkembangan kecerdasan buatan juga membuat ancaman tersebut semakin kompleks. Teknologi memungkinkan produksi konten sintetis yang semakin realistis sehingga masyarakat dapat kesulitan membedakan fakta, manipulasi, dan rekayasa informasi.
“Sekarang membuat konten sintetis, membuat manipulasi fakta menjadi sangat realistis. Masyarakat bisa dibuat bingung,” katanya.
Menurut Gatot, ancaman terbesar bagi Indonesia adalah ketika disinformasi berhasil mengikis kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara sekaligus mengeksploitasi isu SARA, kesenjangan ekonomi, dan sentimen kedaerahan.
Algoritma media sosial dapat menciptakan ruang gema yang memperlebar polarisasi dan mendorong masyarakat saling berhadapan. Di era AI, konten sintetis dan manipulasi informasi juga semakin sulit dibedakan dari fakta. Dengan demikian, perang informasi kini telah meluas ke domain kognitif, dengan sasaran proses berpikir dan kesadaran kolektif masyarakat.
Karena itu, Gatot menegaskan Indonesia harus menjadikan ketahanan informasi sebagai bagian penting dari pertahanan nasional. Negara dan masyarakat harus mampu mendeteksi, menangkal, dan melawan disinformasi tanpa mengorbankan kebebasan informasi.
“Bagi Indonesia, memenangkan perang informasi adalah syarat mutlak untuk terus menjaga persatuan, kedaulatan, dan kelangsungan hidup di abad ke-21,” tegasnya.