Sebagai perbandingan, kota-kota seperti London, Paris, Tokyo, dan New York menggunakan standar ketahanan banjir lima tahunan sebagai tolok ukur dasar. Jaringan pipa bawah tanah Beijing, yang merupakan warisan model era Soviet, dibangun dengan biaya murah dan posisi dangkal; sistem ini dirancang untuk curah hujan biasa, bukan untuk menghadapi hujan ekstrem yang kini semakin sering terjadi seiring dengan pemanasan iklim.
Ini bukan sekadar nasib buruk atau musim topan yang luar biasa ganas—meskipun tahun 2026 memang membawa siklus badai Pasifik yang sangat aktif. Ini adalah konsekuensi yang dapat diprediksi dari sistem pemerintahan yang lebih mengutamakan citra kemajuan daripada substansi nyata; yang membungkam pengawasan media lokal terhadap kontrak konstruksi; serta yang memandang kemarahan publik—seperti reaksi keras saat Zhuozhou dikorbankan demi melindungi Beijing—sebagai masalah humas yang harus disensor, bukannya sebagai sinyal yang harus ditanggapi.
Korupsi dalam anggaran infrastruktur daerah merupakan rahasia umum, bahkan dalam diskursus kalangan yang pro-partai; kontrak diberikan kepada pengembang yang memiliki koneksi politik, anggaran pemeliharaan dipangkas begitu seremoni peresmian usai, dan sistem perkerasan jalan yang mampu menyerap air (permeable pavement) justru tersumbat sedimen serta tidak pernah dirawat dengan layak—sebagaimana diungkapkan dalam penelitian teknik asal China yang telah melalui tinjauan sejawat (peer-review).
Para perencana ekonomi pemerintah tentu mengetahui semua hal ini. Keputusan untuk membiarkannya tanpa perbaikan—sembari terus menggembar-gemborkan konsep "kota spons" sebagai pencapaian unggulan era Xi—merupakan sebuah keputusan kebijakan itu sendiri; kebijakan yang pada akhirnya memaksa warga biasa untuk menerjang banjir setinggi pinggang di salah satu kota terkaya di dunia.
Selama tata kelola penanganan banjir di China tidak tunduk pada mekanisme selain tolok ukur internal partai—seperti audit independen, kebebasan pers yang mampu menyelidiki praktik suap kontraktor, serta akuntabilitas daerah yang tidak menguap begitu saja saat berita tentang topan berlalu dari sorotan publik—maka Shanghai, Beijing, Zhengzhou, dan puluhan kota lainnya akan terus berubah menjadi lautan air setiap musim panas, badai demi badai, dekade demi dekade.
(Rahman Asmardika)