Misteri ‘Pak Haji Gocap’ dan Cerita Pemulung Mampang yang Menanti Rezeki

Danandaya Arya putra, Jurnalis
Sabtu 22 Agustus 2026 10:02 WIB
Pemulung di Mampang, Jakarta Selatan (Foto: Danandaya Arya Putra/Okezone)
Share :

JAKARTA - Malam hari di sepanjang Jalan Mampang Prapatan Raya, Jakarta Selatan, sejumlah orang tampak menunggu sosok misterius yang kerap mereka sebut 'Pak Haji Gocap'. Sosok yang dianggap dermawan itu kerap kali memberikan uang Rp50 ribu kepada warga yang ditemuinya.

Pada Jumat 21 Agustus 2026 malam hingga Sabtu (22/8/2026) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB, beberapa masih bertahan di halte atau ruko yang telah tutup untuk menunggu Pak Haji lewat. Namun, beberapa dari mereka enggan menerima wawancara video tim Okezone dengan berbagai alasan.

"Hari ini belum tentu lewat, biasanya malam Kamis atau malam Senin, jam 11 atau jam 12 kadang jam 1," kata MR, Sabtu pukul 00.20 WIB. Ia mengaku sudah puluhan kali mendapatkan Rp50 ribu dari Pak Haji. Mobil berwarna putih atau hitam dengan lampu terang dan berjalan pelan di pinggiran jalan merupakan kendaraan yang ditumpangi Pak Haji.

Meski mengenali tanda-tanda kedatangannya, MR tak mengetahui pasti perawakan atau wujud Pak Haji. Sebab, Pak Haji hanya membuka setengah kaca mobilnya dan kacanya pun berwarna gelap.
Seingatnya, Pak Haji sudah melakukan aksi bagi-bagi rezeki ini selama lima tahun. Bahkan dulu, seorang yang beruntung bisa menerima uang dari Pak Haji senilai Rp300 ribu.

"Dulu gede ngasihnya Rp300, sekarang karena udah banyak orang jadi Rp50 ribu," ucap dia.

Berbeda dengan MR, seorang yang biasa dipanggil Bang Ambon memilih bekerja keras ketimbang menunggu Rp50 ribu yang tak pasti datang setiap hari. Meski, ia juga pernah menerima pemberian uang dari Pak Haji.

Selama 19 tahun menghabiskan waktu memulung alias mencari barang bekas di jalanan, Bang Ambon baru sekali menerima uang Rp50 ribu dari Pak Haji. Itu pun ketika dia tengah berjalan membawa barang hasil memulung, yang tiba-tiba sebuah mobil berhenti dan melemparkan uang.

"itu pun waktu saya lagi jalan tuh dikasih, dilempar ama Pak Haji itu. Ya nggak mengharapkan, orang lagi jalan bawa barang," katanya.

Ambon mengaku lebih tertarik mengumpulkan barang bekas satu per satu, yang hasilnya ketika dijual lebih dari Rp50 ribu. Sebab, bila mengandalkan Pak Haji, hidupnya akan semakin susah.

"Nungguin orang nggak pasti buat apa? Padahal kan kontrakan saya mahal. Kaya saya hidup ngontrak sama anak, istri. Kalau semalam dapat Rp50 ribu mah tempat bayar kontrakan nggak ada, makan aja kurang kan gitu," tuturnya.

Baginya, bekerja dengan keringat sendiri membuat tubuh tetap sehat sekaligus memberikan penghasilan yang cukup. Sebab, ia tak ingin menggantungkan kehidupannya lewat pemberian dari orang.

"Nah kalau kita berharap dengan seseorang sama aja kita istilah kasarnya mau ngomong kayak seorang pengemis gitu ya kan. Lebih baik saya begini capek keluar keringat badan saya sehat, pendapatan bisa lumayan," tuturnya.

(Arief Setyadi )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya