TAIZ - Pertempuran antara pemberontak Houthi Ansar Allah dan pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menewaskan sedikitnya 81 pejuang di wilayah pesisir Laut Merah dan sekitar Taiz sejak Kamis, 3 September 2026.
Jumlah korban tersebut berdasarkan keterangan dua pejabat militer dan sumber medis. Sebanyak 24 anggota pasukan pemerintah dilaporkan tewas di wilayah pesisir Laut Merah, sementara 15 lainnya tewas di daerah pedalaman Taiz.
Dilansir dari Aljazeera, Jumat (4/9/2026). Sementara itu, sedikitnya 42 pejuang Houthi dilaporkan tewas berdasarkan keterangan sumber medis di wilayah yang dikuasai kelompok tersebut.
Pertempuran pecah setelah pasukan Houthi melancarkan serangan darat yang disertai serangan roket dan pesawat tanpa awak di sejumlah wilayah dekat pesisir Laut Merah dan Taiz.
Salah satunya Abdullah Saeed, 47 tahun. Dia meninggalkan rumahnya di Distrik Maqbanah, sebelah barat Taiz, pada 2022 dan kemudian menetap di Kamp Al-Rahabah, Jabal Habashi, bersama sekitar 300 keluarga lainnya.
Meski harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar, Saeed dan warga lainnya setidaknya dapat menjalani kehidupan yang relatif damai karena berada jauh dari garis depan.
Namun, situasi berubah ketika pertempuran mencapai Jabal Habashi. Serangan Houthi pada Kamis pagi menargetkan wilayah tersebut dan sejumlah kawasan lain di barat daya Yaman.
Saat pasukan Houthi bergerak menuju Al-Rahabah, Saeed dan ratusan keluarga lainnya kembali meninggalkan kamp untuk menyelamatkan diri.
“Pertempuran meletus tiba-tiba di malam hari. Kami berada jauh dari medan perang, tetapi di pagi hari, kami terkejut melihat garis depan di dekat kamp kami. Tidak ada pilihan lain selain mengambil barang-barang pribadi kami dan melarikan diri,” kata Saeed kepada Al Jazeera.
“Kami memiliki pengalaman buruk ketika terjebak dalam baku tembak pada tahun 2022, jadi kami tidak ingin mengalami situasi serupa dan melarikan diri sebelum pertempuran mencapai kamp kami,” lanjutnya.
(Awaludin)