BMKG Sebut Debu Vulkanik Tak Lagi Terdeteksi di 4 Bandara Indonesia

Ari Sandita Murti, Jurnalis
Senin 07 September 2026 18:49 WIB
Bandara Soetta (foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani menyebutkan, berdasarkan hasil paper test di empat bandara di Indonesia, termasuk Bandara Soekarno-Hatta, sudah tidak terdeteksi sebaran debu vulkanik imbas erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Empat bandara yang posisi dari pengamatan paper test itu telah menunjukkan negatif, yaitu di Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, dan Budiarto Curug. Untuk Soekarno-Hatta, ini empat kali berturut-turut paper test-nya telah menunjukkan hasil negatif, artinya tidak ada debu vulkanik yang terpantau dari paper test ini," ujarnya dalam rapat terbatas (ratas) bersama Presiden RI Prabowo Subianto, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, hasil tersebut telah dikomunikasikan dengan Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin. Adapun penentuan pembukaan bandara akan disampaikan oleh otoritas bandara dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Dalam ratas bersama Presiden, Kepala BMKG menerangkan sebaran debu vulkanik menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa waktu terakhir. Pasalnya, pada ketinggian 15.000 kaki hingga 50.000 kaki, angin bertiup ke arah barat dan sebagian ke barat laut serta barat daya.

"Jadi tidak ada lagi yang sebelumnya untuk abu vulkanik di bawah ketinggian 15.000 feet itu masih bertiup ke arah tenggara sehingga beberapa sampai saat ini ada sembilan bandara yang di NOTAM-nya masih ditutup. Jadi sekarang anginnya ke sana," tuturnya.

 

Di samping itu, kata dia, pihaknya memantau adanya potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada 9–12 September 2026 mendatang di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Pihaknya juga telah menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BNPB untuk menangani sebaran debu vulkanik tersebut.

"Secara efektif operasi modifikasi cuaca dan juga hujan yang akan terjadi tanggal 9-15 September nanti dapat mengurangi dampak dari abu vulkanik ini," jelasnya.

Dia mengungkapkan, pihaknya juga telah memasang 20 tsunami gauge dan sensor seismograf yang tersebar di sekitar wilayah Selat Sunda untuk memantau ada tidaknya anomali kenaikan muka air laut yang berpotensi menimbulkan tsunami imbas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Pihaknya juga memasang high frequency radar yang dapat memantau kondisi gelombang, arus, angin, dan potensi tsunami. Hingga saat ini, pihaknya belum menemukan anomali tersebut.

Berdasarkan pemantauan medan magnet bumi dan petir vulkanik, BMKG juga menemukan adanya peluruhan aktivitas erupsi saat ini.

BMKG bersama Ditjen Perhubungan Laut telah menerbitkan Notice to Mariners tentang pelarangan pergerakan atau aktivitas kapal dalam radius 3 kilometer dari kawah Gunung Anak Krakatau selama Badan Geologi menetapkan status Level 3 atau Siaga.
 

(Awaludin)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya