Di samping itu, kata dia, pihaknya memantau adanya potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada 9–12 September 2026 mendatang di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Pihaknya juga telah menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BNPB untuk menangani sebaran debu vulkanik tersebut.
"Secara efektif operasi modifikasi cuaca dan juga hujan yang akan terjadi tanggal 9-15 September nanti dapat mengurangi dampak dari abu vulkanik ini," jelasnya.
Dia mengungkapkan, pihaknya juga telah memasang 20 tsunami gauge dan sensor seismograf yang tersebar di sekitar wilayah Selat Sunda untuk memantau ada tidaknya anomali kenaikan muka air laut yang berpotensi menimbulkan tsunami imbas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Pihaknya juga memasang high frequency radar yang dapat memantau kondisi gelombang, arus, angin, dan potensi tsunami. Hingga saat ini, pihaknya belum menemukan anomali tersebut.
Berdasarkan pemantauan medan magnet bumi dan petir vulkanik, BMKG juga menemukan adanya peluruhan aktivitas erupsi saat ini.
BMKG bersama Ditjen Perhubungan Laut telah menerbitkan Notice to Mariners tentang pelarangan pergerakan atau aktivitas kapal dalam radius 3 kilometer dari kawah Gunung Anak Krakatau selama Badan Geologi menetapkan status Level 3 atau Siaga.
(Awaludin)