JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memprediksi, perang dengan Iran baru akan berakhir setelah pemilihan umum paruh waktu (midterm election) AS, pada November mendatang.
Trump menyampaikan hal tersebut saat berbicara kepada wartawan sebelum menaiki pesawat kepresidenan Air Force One untuk melakukan perjalanan ke Dallas, Texas, Rabu.
“Perang ini akan berakhir segera setelah pemilihan kita,” kata Trump, dilansir dari Aljazeera, Kamis (10/9/2026).
Trump menuding Iran sengaja memperpanjang konflik, untuk menunggu momentum politik yang dinilai lebih menguntungkan bagi mereka di Amerika Serikat.
Menurut Trump, Iran berharap Partai Demokrat dapat memenangkan satu atau kedua kamar Kongres dalam pemilu paruh waktu yang dijadwalkan berlangsung 3 November.
“Mereka sangat ingin mencoba memengaruhi pemilihan agar kita bisa mendapatkan sekelompok orang yang lemah, dan tidak berdaya di sana,” ujar Trump.
Trump juga menuding Iran berharap Partai Demokrat akan bersikap lebih lunak terhadap program nuklir Teheran.
“Yang mereka inginkan hanyalah senjata nuklir, dan jika mereka memiliki senjata nuklir, seluruh dunia akan berada dalam masalah besar,” katanya.
Tak hanya soal nuklir
Program nuklir Iran menjadi salah satu alasan utama yang dikemukakan AS dan Israel ketika perang dimulai pada 28 Februari.
Trump dan sejumlah pejabat AS sebelumnya menyebut program nuklir Iran sebagai ancaman yang semakin dekat bagi AS dan sekutunya.
Namun, Iran berulang kali membantah tengah mengembangkan senjata nuklir. Teheran menyatakan aktivitas pengayaan uranium dilakukan untuk kebutuhan energi dan tujuan sipil.
Sejumlah laporan intelijen AS juga mempertanyakan apakah Iran benar-benar sedang membangun senjata nuklir, meski kekhawatiran tetap muncul terkait tingkat pengayaan uranium yang dilakukan negara tersebut.
Isu nuklir Iran sebelumnya menjadi pokok pembahasan dalam berbagai perundingan. Pada 2015, Iran dan sejumlah negara besar dunia mencapai kesepakatan nuklir yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
Namun, Trump menarik AS dari kesepakatan tersebut pada masa jabatan pertamanya.
Ketika ditanya apakah Washington akan kembali membuka pembicaraan mengenai kesepakatan nuklir dengan Iran, Trump mengisyaratkan bahwa tuntutannya kini lebih luas.
“Saya melakukan lebih dari sekadar kesepakatan nuklir. Ada banyak hal lain selain nuklir,” kata Trump.
Meski demikian, Trump mengaku negosiasi dengan Iran bukan menjadi prioritas utama pemerintahannya saat ini.
“Sejujurnya, kami tidak mencarinya,” ujarnya.
Trump mengatakan dirinya sebelumnya memang ingin mencapai kesepakatan dengan Iran. Namun, menurut dia, kondisi perang saat ini telah mengubah situasi.
AS siapkan serangan lanjutan
Pernyataan Trump tersebut muncul setelah Menteri Energi AS Chris Wright menyebut kemungkinan tercapainya kesepakatan nuklir dengan Iran sangat kecil.
Dalam wawancara dengan ABC News pada Minggu, Wright bahkan mengisyaratkan AS dapat terus melancarkan serangan untuk melemahkan infrastruktur nuklir Iran.
AS sebelumnya telah melancarkan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran dalam perang selama 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025. Saat itu, Trump menyatakan serangan tersebut telah “menghancurkan” program nuklir Iran.
Di tengah kebuntuan diplomatik, konflik juga mulai berdampak terhadap perekonomian global.
Harga minyak pada Rabu menembus level USD100 per barel seiring meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan biaya energi dan harga barang bagi konsumen di berbagai negara.
Militer AS juga menyatakan telah menyerang lima kapal tanker Iran pada Selasa. Serangan tersebut disebut sebagai respons terhadap upaya serangan rudal terhadap kapal perang Angkatan Laut AS.
Trump menegaskan operasi militer AS terhadap Iran belum berakhir.
“ Anda akan melihat lebih banyak lagi,” kata Trump.
Dengan pernyataan tersebut, konflik AS-Iran diperkirakan masih akan berlangsung di tengah tekanan politik domestik AS menjelang pemilu paruh waktu November mendatang.
(Awaludin)