Polisi menyebut kondisi mental korban menjadi perhatian utama karena masih menunjukkan tanda-tanda trauma akibat penyanderaan.
Sementara terkait dugaan adanya kekerasan terhadap korban, pihaknya belum dapat memberikan kesimpulan.
Perawatan korban diserahkan kepada pihak rumah sakit sambil menunggu perkembangan kondisi psikologis agar korban dapat memberikan keterangan dengan lebih baik.
Polisi juga berencana melibatkan keluarga dalam proses komunikasi dengan korban, termasuk menggunakan bahasa daerah agar korban merasa lebih nyaman saat menceritakan pengalaman yang dialami. Keterangan korban diharapkan dapat mengungkap lokasi sandera lain.
"Kita upayakan satu saksi yang hari ini kita evakuasi bisa memberikan keterangan di mana tujuh lainnya itu, sehingga kita bisa lakukan langkah-langkah berikutnya,"ujarnya.
Menurut dia, langkah penyelamatan dilakukan sebagai upaya kemanusiaan sekaligus mencegah munculnya konflik baru antarwarga.
“Kita juga mengapresiasi kru helikopter Polri yang tetap menjalankan misi evakuasi meski menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu,”pungkasnya.
Sekadar diketahui, penyanderaan terhadap sembilan warga sipil oleh KKB Papua terjadi di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, sejak Selasa 18 Agustus 2026.
(Fahmi Firdaus )