WASHINGTON - Biaya yang ditanggung militer AS untuk perang melawan Iran telah membengkak menjadi USD43,6 miliar (lebih dari Rp706 triliun) per 3 September, menurut perkiraan terbaru yang disampaikan kepada para anggota parlemen pekan ini.
Angka dari Komando Pusat AS (US Central Command)—yang mengawasi operasi di Timur Tengah—ini menunjukkan data biaya terkini terkait konflik tersebut sejak diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.
Laporan Congressional Budget Office (CBO) yang dirilis pada Selasa (15/9/2026) menyebutkan bahwa perang tersebut telah menelan biaya USD38 miliar (lebih dari Rp615 triliun) hingga 1 Agustus dan akan terus memakan biaya sekitar USD3 miliar per bulan, bergantung pada intensitas konflik.
Rincian terbaru yang muncul pada Jumat (18/9/2026), yang dilihat oleh The Associated Press, juga menunjukkan terus digunakannya persenjataan berbiaya tinggi oleh pasukan Amerika.
Biaya persenjataan melonjak lebih dari USD6 miliar hanya dalam waktu satu bulan lebih, dari USD21,7 miliar yang tercantum dalam laporan CBO menjadi USD28,1 miliar menurut perkiraan Komando Pusat AS.
Biaya finansial hanyalah salah satu tolok ukur dampak perang Iran ini, yang juga memengaruhi harga minyak serta pasar saham, dan telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa serta luka-luka di kalangan pasukan Amerika.
Dampak politiknya akan terlihat pada pemilihan umum sela Kongres bulan November, di mana Partai Republik menghadapi tantangan yang kian berat akibat ketidakpopuleran perang tersebut.
Rincian satu halaman yang disampaikan militer AS kepada Kongres mencakup biaya operasional kapal perang, pesawat, dan pangkalan militer, serta biaya akibat hilangnya peralatan dan dukungan medis bagi pasukan.
Menurut Defense Casualty Analysis System (Sistem Analisis Korban Pertahanan), jumlah korban yang dicatat Pentagon mencakup 18 orang tewas dan lebih dari 830 orang terluka.
Laporan tersebut tidak mencakup kerusakan pada pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah yang sempat diserang oleh Teheran menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone).
Sebuah laporan dari inspektur jenderal Pentagon yang dirilis pada Senin (14/9/2026) menyebutkan bahwa serangan Iran telah merusak dan menghancurkan ratusan bangunan serta struktur lainnya di pangkalan-pangkalan AS yang berlokasi di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania.
Dalam laporan terbaru yang disampaikan kepada Kongres, komponen biaya untuk amunisi merupakan yang terbesar, mencakup lebih dari separuh total biaya keseluruhan.
Senjata canggih yang paling banyak dibutuhkan adalah rudal pencegat pertahanan, seperti yang diluncurkan oleh sistem Patriot dan THAAD milik Angkatan Darat AS.
Menipisnya persediaan senjata juga menimbulkan kekhawatiran di Eropa; para pejabat AS dan NATO mengungkapkan kepada kantor berita AP bahwa terdapat kekurangan rudal pencegat yang kondisinya sudah "melampaui batas kritis".
(Rahman Asmardika)