Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

WaPo: Setidaknya 22 Tentara AS Tewas di Timur Tengah, Lebih Tinggi dari Data Pentagon

Rahman Asmardika , Jurnalis-Minggu, 20 September 2026 |15:42 WIB
WaPo: Setidaknya 22 Tentara AS Tewas di Timur Tengah, Lebih Tinggi dari Data Pentagon
Ilustrasi. (Foto; AP)
A
A
A

WASHINGTON - Jumlah personel militer Amerika Serikat (AS) yang tewas saat ditugaskan di Timur Tengah sejak dimulainya perang Iran lebih tinggi daripada angka resmi yang dirilis Pentagon, demikian dilaporkan The Washington Post (WaPo), mengutip sumber-sumber militer. Menurut laporan tersebut, data korban jiwa militer yang dipublikasikan Pentagon mungkin tidak mencatat hingga lima kematian personel militer.

Hingga Jumat (18/9/2026), Sistem Analisis Korban Pertahanan (DCAS) milik Pentagon mencatat 18 kematian personel militer AS—baik akibat tindakan musuh maupun sebab non-tempur—sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari.

Namun, lima sumber mengungkapkan kepada media tersebut bahwa terdapat setidaknya 22 kematian personel militer, sementara sumber keenam menyebutkan angka yang lebih tinggi lagi, yakni 23 personel tewas sejak perang bermula.

Menurut keterangan pejabat tersebut, tidak semua kematian tambahan itu berkaitan langsung dengan konflik, namun melibatkan personel AS yang ditempatkan di Timur Tengah di tengah situasi yang sedang berlangsung. Selain itu, tiga kontraktor AS yang berbasis di kawasan tersebut juga telah meninggal dunia sejak operasi tempur dimulai, tambah keterangan tersebut, sebagaimana dilansir RT.

Tidak jelas apakah ketidaksesuaian tersebut dimaksudkan untuk mengecilkan angka korban perang atau merupakan akibat dari prosedur administratif dalam mengklasifikasikan kematian personel militer.

Metode penghitungan korban oleh pemerintah AS sempat mendapat sorotan pada Juli, ketika Pentagon sempat menghapus empat kematian terkait konflik dengan Iran dari daftar publiknya selama masa gencatan senjata yang pada akhirnya gagal—meliputi tiga tentara yang tewas akibat serangan rudal Iran di pangkalan AS di Yordania dan satu lagi yang tewas keesokan harinya saat peledakan terkendali terhadap pesawat nirawak (drone) Iran di Irak.

Pentagon menyatakan penyebabnya adalah kesalahan pemrosesan data setelah penghapusan tersebut memicu sorotan dari Kongres. Data kematian itu kemudian dimuat kembali bersama sekitar 207 personel yang terluka, namun dikategorikan di bawah "Operasi Kontingensi Luar Negeri" dan bukan "Operasi Epic Fury", yaitu nama yang digunakan pemerintah untuk konflik dengan Iran tersebut.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement