SEOUL — Tiga perwira militer Korea Selatan terluka akibat ledakan saat melakukan operasi di dekat perbatasan dengan Korea Utara yang dipenuhi ranjau, demikian pernyataan militer Seoul pada Senin (21/9/2026). Insiden tersebut terjadi di sebelah selatan Garis Demarkasi Militer (Military Demarcation Line/MDL) di dalam Zona Demiliterisasi (Demilitarized Zone/DMZ), salah satu wilayah perbatasan yang paling dijaga ketat dan dipenuhi ranjau di dunia.
Dua perwira yang terluka dievakuasi menggunakan helikopter, sementara perwira ketiga rencananya akan dipindahkan melalui jalur darat sebelum kemudian diterbangkan, menurut Kepala Staf Gabungan (JCS).
Belum diketahui secara pasti apakah ledakan tersebut disebabkan oleh ranjau Korea Utara, ranjau Korea Selatan, atau perangkat peledak lainnya.
Ketiga perwira tersebut "terluka akibat ledakan yang penyebabnya belum diketahui saat sedang melakukan operasi di lokasi sebelah selatan MDL," ungkap JCS dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dilansir AFP.
Pihak militer tidak segera memberikan rincian mengenai tingkat keparahan luka yang mereka alami.
DMZ adalah zona penyangga sepanjang 248 kilometer (154 mil) dengan lebar sekitar empat kilometer (2,5 mil) yang memisahkan Semenanjung Korea sejak gencatan senjata tahun 1953 yang mengakhiri Perang Korea.
Meskipun zona itu sendiri secara resmi didemiliterisasi, batas wilayah utara dan selatannya termasuk di antara perbatasan yang paling dijaga ketat di dunia dan masih dipenuhi ranjau darat.
Menurut data militer yang dikutip kantor berita Yonhap, diperkirakan terdapat sekitar 800.000 ranjau yang tertanam di sekitar wilayah tersebut; banyak di antaranya berasal dari masa Perang Korea, meskipun pemasangan ranjau baru juga terus dilakukan dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak tahun 2024, setelah pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menetapkan Korea Selatan sebagai "musuh utama" negaranya, militer Pyongyang telah memasang ranjau dan membangun penghalang anti-tank di sepanjang perbatasan sebagai bagian dari upaya untuk menutup perbatasan tersebut secara permanen.
Militer Korea Selatan sebelumnya menyatakan bahwa beberapa tentara Korea Utara tewas atau terluka akibat ledakan ranjau yang tidak disengaja selama pengerjaan proyek-proyek tersebut.
Insiden ranjau darat sebelumnya pernah meningkatkan ketegangan antara kedua Korea.
Pada tahun 2015, dua tentara Korea Selatan terluka parah ketika sebuah ranjau darat meledak di sisi selatan DMZ, yang mengakibatkan salah satu dari mereka kehilangan kedua kakinya.
Seoul menyimpulkan bahwa pasukan Korea Utara telah melintasi MDL untuk memasang ranjau tersebut, sebuah tuduhan yang dibantah oleh Pyongyang. Insiden tersebut mendorong Korea Selatan untuk kembali melakukan siaran pengeras suara yang menentang Korea Utara di sepanjang perbatasan.
Insiden terbaru ini terjadi di tengah seruan berulang kali dari Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung untuk mengadakan dialog tanpa syarat dengan Korea Utara—sebuah langkah pendekatan yang hingga kini belum ditanggapi oleh Pyongyang.
(Rahman Asmardika)