JAKARTA - Pemerintah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah musim kemarau dan pengaruh El Nino yang meningkatkan risiko kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia. Penanganan dilakukan secara terpadu, mulai dari pengerahan personel di darat, pemadaman langsung, patroli, water bombing, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pemantauan satelit, hingga penegakan hukum.
Data terbaru Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan menunjukkan, hingga Jumat, 18 September 2026 pukul 21.05 WIB, terdapat 546 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi yang terdeteksi secara nasional.
Enam provinsi menjadi perhatian utama, yakni Kalimantan Tengah dengan 166 hotspot, Sumatera Selatan 100 hotspot, Kalimantan Barat 39 hotspot, Kalimantan Selatan 12 hotspot, Jambi 9 hotspot, dan Riau 4 hotspot.
Kementerian Kehutanan menegaskan, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan dan tidak serta-merta menunjukkan jumlah kejadian kebakaran. Setiap titik tetap harus diverifikasi melalui pengecekan kondisi aktual di lapangan.
"Pemerintah saat ini mengerahkan 55 unit armada udara untuk mendukung penanganan karhutla di Sumatera dan Kalimantan," ujar Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).
Armada tersebut terdiri atas helikopter patroli, pesawat CASA untuk mendukung OMC, serta helikopter water bombing. Pengerahan dilakukan secara dinamis berdasarkan kondisi kebakaran, hasil verifikasi hotspot, potensi awan, jarak pandang, dan aspek keselamatan penerbangan.