“Seperti itulah wujud kemitraan yang dirancang dengan matang, sebagian dari kapal tersebut sedang dibangun di sini oleh industri Indonesia bersama sebuah grup asal Prancis. Itulah visi kami mengenai kemampuan dan keahlian bersama,” ujar Vautrin.
Vautrin menegaskan sebagian komponen kapal selam tersebut diproduksi di Indonesia melalui kerja sama PT PAL dan Naval Group. Hal senada disampaikan Sjafrie, yang menyebut penguatan kerja sama ditandai dengan kedatangan Rafale pertama di Indonesia serta dimulainya pembangunan kapal selam Scorpene pertama di Surabaya.
Bagi Vautrin, pola kerja sama ini menjadi gambaran kemitraan yang tidak berhenti pada penggunaan produk pertahanan semata, tetapi juga mencakup kemandirian industri dan transfer pengetahuan.
Selain alutsista, Vautrin turut menyoroti kerja sama di bidang sumber daya manusia. Ia menegaskan angkatan bersenjata kedua negara tidak akan berarti tanpa personel yang tangguh. Oleh karena itu, Prancis membuka pintu bagi taruna maupun perwira Indonesia untuk menempuh pendidikan dan pelatihan di sekolah-sekolah militer Prancis.
“Prancis akan selalu senang menyambut para taruna atau perwira yang ingin melakukan pendidikan dan pelatihan di sekolah Angkatan Bersenjata Prancis,” ujarnya.
(Rahman Asmardika)