Melalui konten-konten tersebut, informasi kebijakan pendidikan disampaikan tidak hanya dalam bentuk pengumuman program, tetapi juga lewat gambar, suara, dan pengalaman warga sekolah yang membantu masyarakat memahami konteks pelaksanaannya.
“Di balik angka dan kebijakan, ada pengalaman manusia yang juga penting untuk dihadirkan. Kami ingin masyarakat dapat melihat lebih dekat pengalaman warga sekolah dan memahami bagaimana kebijakan pendidikan dilaksanakan,” tutur Gogot.
Pendekatan audiovisual tersebut dilengkapi dengan publikasi buku 88 Cerita: Gotong Royong Revitalisasi Sekolah, artikel, situs web, serta berbagai kanal media sosial Ditjen PAUD Dikdas PNFI. Buku tersebut menghimpun pengalaman satuan pendidikan dan masyarakat dalam pelaksanaan revitalisasi sekolah, sedangkan kanal digital digunakan untuk menyajikan serta mendistribusikan informasi pendidikan kepada publik.
Dalam konteks digitalisasi pembelajaran, Gogot menekankan pentingnya menempatkan teknologi sebagai sarana untuk mendukung proses belajar. Ini sejalan dengan penekanannya dalam komunikasi kebijakan digitalisasi pembelajaran bahwa penyediaan perangkat perlu disertai penguatan pemanfaatannya oleh guru dan murid.
Gogot juga menyoroti titik temu antara pendidikan dan jurnalisme dalam membantu masyarakat memperoleh informasi yang dapat dipercaya, memahami konteks, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis.