Wamentan Saleh Mustafa, Jenderal Kopassus Penumpas Jagal Poso Si Barok di Gunung Biru

Fahmi Firdaus , Jurnalis
Jum'at 02 Oktober 2026 05:00 WIB
Saleh Mustafa saat masih aktif di TNI/ist
Share :

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto melantik Muhammad Saleh Mustafa sebagai Wakil Menteri Pertanian, di Istana Negara, Kamis (1/10/2026). Pelantikan tersebut menambah susunan wakil menteri di Kabinet Merah Putih.

Muhammad Saleh Mustafa akan membantu Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam menjalankan tugas di Kementerian Pertanian.

Saleh mengisi posisi yang kosong setelah wamentan sebelumnya, Sudaryono diangkat Prabowo menjadi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).

Profil Saleh Mustafa

Saleh Mustafa lahir pada 14 Maret 1969 di Ternate, Maluku Utara. Dia merupakan abituren Akademi Militer (Akmil) 1991. Selama berkarier di TNI, Saleh merupakan perwira Kopassus yang memiliki karier mentereng.

Saleh menjabat Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal (Letjen) sebelum dilantik menjadi Wamentan.  Sebelum menjabat Wakasad, Saleh merupakan Inspektur Jenderal TNI.

Jabatan stategis yang pernah diembannya adalah Pangdam XVII/Cenderawasih, Kepala Staf Kostrad (Kaskostrad) dan Pangkostrad menggantikan Jenderal TNI Maruli Simanjuntak.

Saat masih aktif di TNI, Saleh berpengalaman di medan konflik. Salah satunya saat menumpas kelompok teroris pengganti Santoso, pimpinan teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) dalam Operasi Simpang Angin di Poso, Sulawesi Tengah.

Operasi ini dirancang para perwira Komando di antaranya Kolonel Inf Saleh Mustafa, yang pada waktu itu menjabat sebagai Danrem 132 Tadulako. Dia berhasil menumpas kelompok teroris tersebut  yang bertahun-tahun dicari aparat yakni Barok alias Rangga di hutan Gunung Biru, Poso.

“Prajurit gabungan TNI yang dimotori Kopassus berhasil menghabisi Barok alias Rangga, pimpinan kelompok teroris pengganti Santoso, pimpinan teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang berafiliasi ke ISIS, pada 15 Mei 2017,” tulis buku Kopassus untuk Indonesia jilid II.

 

Barok dikenal sebagai "jagal" Poso karena dia adalah teroris yang berulangkali memenggal para petani di sekitar Poso.

Saat memenggal korban, Barok merekam tindakan biadab tersebut yang kemudian disebarkan ke media sosial untuk meneror warga dan juga mencari dukungan dari simpatisan atau sel tidur kelompok teroris MIT.

Kelompok teroris tersebut membawa senapan, senjata api rakitan, dan berbagai jenis senjata tajam. Mereka berkeliling wilayah Poso dan rutin turun ke desa-desa untuk membeli atau pun mengambil logistik di pemukiman warga setiap Jumat atau Minggu.

Warga Poso dibunuh dengan kejam oleh kelompok tersebut lebih dari 10 tahun. Warga yang umumnya tinggal dan bekerja di kebun-kebun terpencil ketakutan untuk bekerja sama atau membantu aparat karena takut akan pembalasan dari jejaring kelompok teroris tersebut.

(Fahmi Firdaus )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya