Ia memaklumi kondisi tersebut. Menurut Emir, marhaenisme pernah dibungkam pada masa Orde Baru, bahkan penggunaan nama tersebut dalam organisasi kepemudaan disebut tidak diperbolehkan.
"Bahkan namanya disuruh ganti, mungkin dia panggil, jadi pemuda demokrat, enggak boleh pakai kata Marhaenisme," ucap Emir.
Emir mengatakan penggunaan kembali nama marhaenisme menjadi bagian dari upaya menghidupkan pemikiran tersebut. "Sekarang kita pakai lagi kata Marhaenisme, enggak ada yang bisa sandung lagi, dan tujuan utama, sebagaimana saya sempat ngomong juga dengan anak-anak proklamator dan penggerak Marhaenisme, dan yang hebat, tentulah generasi saya," ucapnya.
Ia berharap Kongres GPM dapat menjadi momentum untuk memperkuat organisasi dan mendorong kemajuan gerakan tersebut. "Nah, semoga sesudah kongres ini organisasi bisa lebih tertata dan bisa lebih maju lagi," pungkasnya.
(Arief Setyadi )