TERNATE - Sebagai burung temuan Alfred Russel Wallace (ilmuan asal Inggris) yang luar biasa cantiknya adalah Bidadari Halmahera (semioptera wallacei). Sayangnya, burung yang oleh Wallace diberi nama Bidadari karena keindahan bulunya itu nyaris terancam punah.
Di tengah belantara rimba Halmahera yang sedikit demi sedikit terusik oleh ekplorasi tambang dan penebangan, burung berukuran 25-30 sentimeter ditenggarai tinggal memiliki populasi yang tak lebih dari 100 ekor yang tersebar di hutan-hutan Halmahera dan pulau Bacan.
Dari penuturan Demianus Bagali, salah seorang tokoh pencinta burung yang khusus mengabdikan dirinya untuk melindungi burung yang oleh warga lokal disebut Weka-Weka itu, ditenggarai populasi burung itu tinggal 50 sampai 100 ekor saja yang banyak didominasi jenis jantan.
Persebaran burung ini, kata Demianus, hanya tersisa di beberapa lokasi, salah satunya di kawasan hutan Batu Putih Domato, Sidangoli, kecamatan Jailolo Selatan, kabupaten Halmahera Barat. "Di sini populasinya tinggal 15 ekor di mana hanya tersisa tiga ekor betina saja," ujar pria 46 tahun yang sejak tahun 1984 sudah menjaga burung-burung tersebut dari tangan-tangan jahil.
Okezone yang berkesempatan menelusuri hutan tersebut selama tiga hari (22-25/11/2008) untuk mengecek keberadaan burung tersebut, memang sempat menyaksikan keindahan dari burung yang juga dinamai surga dari Halmahera itu.
Kemunculan burung itu akhirnya bisa ditemui di antara rimbunan pepohonan Matoa yang memang jadi makanan pokok burung selain serangga itu, pada pagi hari saat fajar menyingsing. Rasa lelah yang terasa setelah berjalan puluhan kilometer dalam hutan di malam hari yang gelap gulita dan amat beresiko itu, langsung terhapus saat menyaksikan keindahan burung dan suaranya yang merdu tersebut.
Selain di kawasan tersebut, Bidadari Halmahera juga bisa ditemui di kawasan hutan Wasiley (Halmahera Tengah), gunung Sibela, Bacan (Halmahera Selatan), dan kaki gunung Gamkonora (Halmahera Utara).
"Keunikan burung ini yakni hanya muncul di pagi hari sekitar pukul enam hingga sembilan pagi. Keseluruhannya mungkin tak lebih dari 100 ekor," kata Ko Anu.
Wallace sendiri bertemu dengan burung molek ini di Pulau Bacan pada tahun 1858, dan langsung menyebutnya burung tercantik di kepulauan yang seindah bidadari. Boleh dibilang, burung bidadari yang berwarna dominan hijau ini merupakan kejutan besar bagi Wallace.
Saat itu semua orang tahu bahwa burung cenderawasih hanya ada di Papua, tetapi ternyata Ali, anak Melayu asisten Wallace menemukan sejenis cenderawasih di Pulau Bacan, Halmahera.
Dalam The Malay Archipelago: The Land of The Orang-utan and The Birds of Paradise (1869) yang ditulisnya setelah menjelajah Nusantara selama delapan tahun (1854-1862), Wallace melukiskan, sebenarnya keseluruhan bulu burung bidadari tergolong biasa dan sederhana. Warnanya sehijau daun zaitun, dengan sedikit keungu-unguan di ujung dekat ekornya.
Kepalanya seperti memakai mahkota karena dihiasi bulu ungu muda berkilat. Leher dan dadanya berwarna hijau mengkilat. Semakin ke bawah, bulu-bulunya seperti terpisah menjadi dua bagian, masing-masing ke arah sayap kanan dan kiri. Kakinya berwarna kuning kemerahan, paruhnya berwarna seperti tanduk, dan matanya hijau seperti buah zaitun.
Namun, empat helai bulu panjang berwarna putih susu yang keluar dari pangkal sayapnya betul-betul membuatnya memiliki karakter unik. Bulu itu tidak lebar, tetapi sangat lembut dan seperti teranyam pada sayapnya. Bulu setiap helainya sepanjang sekitar enam inci itu menjulur hanya pada saat-saat tertentu yang diinginkan burung.
Yang pasti, antena putih susu itu hanya dimiliki oleh burung jantan. Bulu indah itu terjulur terutama pada saat fajar menyingsing, saat bidadari jantan beratraksi di ketinggian pohon untuk menarik perhatian pasangannya.
(Fitra Iskandar)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.