YLKI: Konsumsi Obat Puyer Masih Dilematis

Novi Muharrami, Okezone · Jum'at 13 Februari 2009 11:22 WIB
https: img.okezone.com content 2009 02 13 1 192397
JAKARTA - Kontroversi konsumsi obat puyer di kalangan masyarakat masih menyisakan dua pendapat besar, yakni dari harga dan segi higienitas. Hal ini menjadi dilema bagi konsumen dari keluarga miskin yang membutuhkan obat murah.

Staf Riset Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Ida Marlinda mengatakan, masih ada dua pendapat tentang konsumsi obat puyer ini. "Masalahnya, hanya pada kejelekan higienisnya saja. Dibungkus ulang, dari segi campuran obatnya karena ini polifarmasi," ujarnya saat berbincang dengan okezone, Jumat (13/2/2009).

Ida menjelaskan, permasalahan yang menjadi perdebatan saat ini adalah dari segi higienitas saja. Dalam pengolahan, masyarakat harus mampu melihat mana apotek yang dipercaya mengolah obatnya secara higienis. "Jangan di toko-toko obat seperti di pasar-pasar misalnya. Konsumen harus bisa memilih untuk membeli obat di apotek yang bersih," kata dia.

Selain itu, kata Ida, dua pendapat lain adalah mengenai jangkauan harga. Obat puyer dikonsumsi lantaran harganya lebih terjangkau. "Masalahnya sekarang, kalau obat anak-anak yang tetes atau larutan itu mahal," kata dia.

Menurut Ida, agar dapat dikonsumsi aman oleh konsumen khususnya anak-anak, sebaiknya pengolahan obat puyer harus dimaksimalkan faktor higienisnya. Misalnya saja, kata dia, obat panas untuk anak-anak yang murah hanya tersedia tablet, untuk dijadikan puyer masih bisa ditolerir dengan pengolahan secara higienis misalnya mortar atau alat penggerus rajin dibersihkan. "Jangan sembarang mencampur segala jenis obat saja," tukasnya.

Hal lain yang harus diperhatikan apoteker saat meracik puyer adalah takaran. Ini menjadi perdebatan lantaran biasanya takaran untuk obat puyer sering dilakukan hanya secara kasat mata saja.

"Itu membaginya secara kasat mata, dikhawatirkan membaginya tidak rata," kata dia.

Mengenai tingkat higienis pembungkus puyer, menurut Ida, di beberapa rumah sakit yang juga meracik puyer untuk pasiennya, tidak lagi menggunakan kertas biasa. "Mereka sudah menggunakan kertas khusus untuk membungkus puyer," ujarnya.

Jika dilihat dari segi keperluan konsumsi puyer, Ida mengatakan masih bisa ditolerir. "Dari segi keperluan yang penting, baik konsumen, dokter, dan apoteker harus bisa meningkatkan cara pengolahan secara bersih dan higienis," pungkasnya.


(nov.-)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini