nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Boediono, Si "Bung Kecil" yang Suka Film Koboi

Solichan Arif, Jurnalis · Kamis 14 Mei 2009 07:14 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2009 05 14 1 219520 4T7oSNCZ3r.jpg Teman kecil Boediono, Syamsiah Syafaat. (Foto: Solichan Arif/Koran SI)

BLITAR - Nama Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono mendadak populer begitu internal Partai Demokrat (PD) menyandingkan putra kelahiran Blitar ini duduk bersama Calon Presiden 2009 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Terlepas pro kontra yang masih berlangsung "panas" di Ibukota, di mata para teman dan kerabat yang bertempat tinggal di Blitar, Boediono dikenang sebagai pribadi yang cenderung cool, sederhana dan serius.

Alumni tahun 1960 SMAN 01 Kota Blitar Jurusan C (Ekonomi dan Hukum) ini juga dikenal sebagai siswa yang cerdas dan berprestasi. Sehingga, tak sulit  bagi putra sulung  almarhum pasangan suami istri Ahmad Sastro Warjono dan Ny Samilah menerobos tes Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada Jogjakarta.

"Saat lulus SMA Pak Bud (Boediono) melejit sebagai lulusan terbaik. Nilainya tertinggi mengalahkan seluruh siswa yang ada. Karenanya beliau bisa mudah masuk UGM, " tutur Ny Syamsiah Syafaat saat ditemui di kediamannya, Rabu 13 Mei.

Syamsiah merupakan teman satu kelas Boediono di SMAN 01 Kota Blitar. Pensiunan guru SMA ini juga menjadi teman saat masih duduk di bangku SMPN 01 Kota Blitar. Selain teman sekolah keduanya juga kawan bermain yang cukup akrab di rumah.

Syamsiah tinggal di Kelurahan Kauman, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar. Sementara sekitar setengah kilometer, dari Jalan Dr Wahidin Soedirohoesodo No 6 Lingkungan Magersaren, Kelurahan Kepanjen Lor, Kecamatan Kepanjen Kidul.

"Ayah dan ibu saya kenal baik dengan ayah dan ibu Pak Bud (Boediono). Kami seperti kerabat," terangnya.

Budi, begitu semua teman-temannya, termasuk Syamsiah memanggil Boediono. Walaupun cenderung serius, Budi suka bercanda, meski bukan seorang humoris. Syamsiah lebih suka menyebutnya cerdas daripada pandai.

"Kalau belajarnya sih biasa aja, seperti anak pada umumnya. Namun beliau ini mudah sekali menangkap pelajaran yang disampaikan ibu dan bapak guru. Jurusan kami adalah Ekonomi dan Hukum yang merupakan jurusan hafalan," terangnya.

Syamsiah masih ingat kebiasaan Boediono kecil ketika berada di rumah. Sulung dua bersaudara, yakni Ny Tutik dan Kuncoro Jati yang sekarang juga tinggal di Jakarta itu gemar menonton film yang berbau western (barat), khususnya koboi.

Selain adegan kejaran-kejaran dan tembak-tembakan di padang rumput, Boediono kerap  memanfaatkan film western sebagai sarana mengasah kemampuanya berbicara Inggris.

"Biasanya kalau nonton film western di TV duduknya paling depan. Kemudian memakai topi yang dibenamkan di kepala hingga bagian mukanya tidak tampak," kenangnya sembari tersenyum.

Syamsiah juga masih ingat ketika Boediono yang baru satu tahun menempuh kuliah di Fakultas  Ekonomi UGM mendadak  pulang ke Blitar. Kepadanya, Boediono bercerita hendak sekolah di Australia. Namun karena takut kepada ibundanya, Syamsiahlah yang dimintanya untuk memamitkan.

"Dan saya yang kemudian yang menceritakan ke ibunya Pak Bud. Sebab katanya kalau dirinya sendiri yang bilang tentu tidak diijinkan sekolah di Australia," pungkasnya.

Terkait munculnya nama Boediono sebagai Cawapres pendamping SBY, sebagai teman Syamsiah sangat mendukung. Kendati demikian, dirinya lebih suka melihat Boediono sebagai Gubernur BI.

"Sebab kalau masuk kekuasaan itu biasanya akan menjadi pasif. Tidak lagi bisa profesional. Saya pikir kedudukan sebagai Gubernur BI itulah jabatan yang paling tepat untuk Pak Bud. Namun saya juga merasa bangga jika teman yang sudah seperti kerabat sendiri ini menjadi orang nomor dua di negeri ini," pungkasnya.

Dukungan serupa disampaikan Prijanto, pensiunan Kepala Stasiun Blitar yang juga teman sekelas Boediono di SMAN 01 Kota Blitar. Sebagai teman sekaligus sahabat, Prijanto menilai Boediono layak mendampingi SBY.

Boediono yang berperawakan kecil dan selalu menggulung buku tulisnya serta menyelipkan ke dalam saku celana ketika sekolah itu memang pantas menduduki jabatan tersebut. "Saya tahunya dari membaca Koran dan lihat televisi. Kalau memang seperti itu, kami teman-temanya berdoa agar cita-citanya tercapai," ujarnya.

(hri)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini