nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Benteng Kalamata dan Kota Janji (2)

Rival Fahmi, Jurnalis · Kamis 04 Juni 2009 07:17 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2009 06 04 1 225939 b3kpfZouJQ.jpg

TERNATE - Kota ini memang dipenuhi benteng peninggalan penjajah. Tak jauh dari benteng Kastela, tepatnya 3 Km arah utara menuju pusat kota, terdapat peninggalan bangsa Eropa lainnya yakni Benteng Kalamata Kota Janji yang terletak tepat di atas bukit 1.000 Rupiah.

Bukit ini disebut oleh masyarakat setempat sebagai puncak bukit 1.000 Rupiah karena di sinilah lokasi pulau Tidore dan Maitara yang terdapat di lembaran uang Rp1.000.

Sama seperti benteng Kastela, benteng yang bernama asli Santo Pedro Pablo itu juga dibangun oleh Antonio de Brito pada awal abad ke-16 tepatnya tahun 1522. Disebut benteng Kota Janji karena di benteng ini menjadi digunakan sebagai tempat perjanjian damai antara Sultan Khairun dan Gubernur Portugis saat itu Diego Lopes de Muspito. Namum Portugis yang berkhianat dan membunuh Sultan Khairun di benteng Kastela.

Hamparan birunya laut dengan panorama pulau Tidore dan Maitara, plus pulau Mare, Makian, dan Moti, memang menjadi pemandangan terindah di depan benteng ini. Konon, benteng ini sengaja dibangun oleh Pigafeta, seorang bangsa Portugis pada tahun 1540 untuk menghalalu serangan bangsa Spanyol yang mendiami kawasan Rum, pulau Tidore.

Keunikan benteng ini juga yakni selalu berpindah kepemilikan mulai dari Portugis, Belanda dan Spanyol. Setelah ditinggal bangsa Portugis, Benteng ini dipugar oleh Belanda (Pieter Both) pada tahun 1609.

Tahun 1625, benteng ini di kosongkan oleh Geen Huigen Schapenham, yang beberapa tahun sebelumnya tiba dengan armada Nassau di Ternate. Pada 1967, di bawah pemerintahan Gillis van Zeist, benteng ini dikosongkan untuk selama-lamanya. Setelah kosong, tempat ini pun diduduki Spanyol.

Nama Kalamata, diambil dari nama Pangeran Ternate yang wafat di Makassar pada Maret 1676. Pangeran Kalamata adalah adik Sultan Ternate, Madarsyah, yang memberontak saat salah seorang pimpinan ekspedisi perang Makasaar yang dikirim oleh Sultan Hasanudin pada tahun 1666, menyerang kepulauan Sula, Banggai dan Bungku.

Benteng di Kepulauan Sula diserang habis-habisan. Bahkan sepuluh orang Belanda yang ditangkap di benteng ini di tawan dan dibawa ke Makasar untuk menjalani hukuman mati. Saat tahun 1663 Spanyol meninggalkan Ternate, Belanda kembali menguasai benteng Kalamata. Benteng ini diperbaiki oleh Mayor van Lutnow sesuai dengan rencana almarhum Kolonel Reimer.

Tahun 1989, benteng ini tampak terbengkalai dan dibiarkan begitu saja. Pengambilan pasir di sekeliling benteng juga diabaikan hingga terjadi abrasi dan sebagian besar benteng tergenang air laut. Baru pada 1994 silam, benteng ini kembali dipugar oleh Departemen pendidikan dan Kebudayaan sehingga kembali utuh tanpa mengurangi bentuk asli benteng.

Banyak keindahan alam yang bisa dinikmati di benteng yang di dalamnya terdapat 4 bastian dan sebuah sumur ini. View yang ditunjukkan dari benteng ini adalah hamparan pulau-pulau di depan Ternate. Salah satunya adalah anda pemandangan yang tergambar dalam uang kertas pecahan Rp1.000 yakni pulau Tidore dan Maitara.

(ded)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini