nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Setelah Tulungagung, Baha'i Menyebar ke Blitar

Solichan Arif, Jurnalis · Rabu 28 Oktober 2009 19:05 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2009 10 28 340 270182 bDhkGBWhY5.jpg

BLITAR - Pengikut ajaran Baha'i ternyata tidak hanya berada di wilayah Kabupaten Tulungagung. Bak cendawan di musim penghujan, pemeluk aliran yang beribadah salat dengan kiblat di Gunung Caramel Israel  itu juga muncul di  Blitar, Jawa Timur.

Sedikitnya ada 7 orang dari 2 kepala keluarga (KK) yang saat ini bermukim di Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat, Blitar yang menganut ajaran ini. Dari informasi yang berhasil dikumpulkan, salah satu dari kepala keluarga itu bernama Sahari alias Rebo.

Kepada setiap orang yang ditemuinya, Rebo secara terang-terangan mengakui bahwa dirinya seorang Baha'i. Rebo juga tak sungkan menjelaskan, bagaimana keyakinanya memiliki kemiripan dengan ajaran agama Islam dan Kristen.

Dia contohkan, untuk urusan hidup di dunia, kaum Baha'i diwajibkan untuk berikhtiar. Baha'i juga meyakini bahwa Tuhan itu ada di mana-mana. Sementara untuk urusan berhubungan dengan sesama, mereka melaksanakan pola ajaran cinta kasih.

"Namun untuk penyebutan nama Tuhan, Baha'i membebaskan umatnya. Misalnya untuk yang dulunya Islam menyebut dengan Allah. Sedangkan nasrani Tuhan Allah dan untuk Hindu serta Budha Sang Hyang Widi," tutur warga Srengat yang mengaku kerap berkomunikasi inten dengan Rebo, Rabu (28/10/2009). 

Seperti halnya Slamet Riyadi, pembawa ajaran Baha'i di Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Rebo juga dikenal militan melakukan  penyebaran (syiar). Terlebih pekerjaanya sebagai pedagang barang rumah tangga dan mebel yang dikreditkan, membuat dirinya mudah bersinggungan dengan orang lain.

"Orangnya cerdas dan pandai berdiskusi. Setiap pembicaraan selalu menyisipi materi soal Baha'i," papar warga yang tidak mau disebutkan namanya ini. Kepada orang lain, Rebo mengaku dulunya seorang muslim.

Namun karena dia membutuhkan Surat Izin Mengemudi (SIM), dan tidak mungkin mengisi kolom agama diisi dengan Baha'i, dia memilih mencantumkan agama Nasrani. "Dan menurut dia, seluruh keluarga dan kerabatnya yang Baha'I, di desanya juga menuliskan Nasrani sebagai agama mereka," pungkasnya.  

Sekretaris MUI Kabupaten Blitar Ahmad Su'udi ketika dikonfirmasi membenarkan hal tersebut. Ahmad mengakui bahwa di Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat, memang ada warga yang menjadi pengikut Baha'i. Saat ini MUI bersama Kesbanglinmas telah melakukan pemantauan, apalagi dengan munculnya pemberitaan Baha'i di Tulungagung yang secara geografis tidak jauh dari Srengat.

"Saat ini kita sedang melakukan pendekatan kepada mereka, mengenai ajaran yang dianut," ujar Su'udi kepada wartawan.  Untuk meminimalisir terjadinya penyebaran ajaran tersebut, MUI setempat akan menggandeng Depag dan Kantor Dispenduk Catatan Sipil untuk melakukan pendekatan persuasif dan pengawasan kepada mereka.         

"Kami juga akan meminta kepada camat, kades dan perangkat desa untuk menolak mereka yang meminta mencantumkan Baha'i sebagai agama dalam KTP-nya," terang Su'udi.   

Mengenai keberadaannya Baha'I ini, Su'udi mengaku belum tahu pasti, apakah ini berasal dari Tulungagung atau daerah lain. "Kita masih menelusuri. Sebelumnya yang kita waspadai di daerah Blitar bagian selatan. Tidak tahunya di Blitar sebelah utara yang justru kemasukan paham seperti ini," katanya.

(ded)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini