Share

Posisi M Yamin dalam Sejarah Indonesia (2)

Kamis 29 Oktober 2009 09:30 WIB
https: img.okezone.com content 2009 10 29 58 270263

Pemikiran Yamin sungguh telah mendahului zamannya karena kemudian hari kita ketahui bahwa sejarah yang diajarkan di sekolah tak ubahnya dari sejarah militer.

Dibandingkan dengan Robert Cribb, Historical Atlas of Indonesia (2000) yang dikerjakan secara lebih ilmiah, Atlas Sejarah yang dibuat Yamin memang masih elementer walaupun sudah dapat dianggap pionir pada zaman itu. Atlas Cribb hanya terfokus ke Indonesia, sedangkan Yamin juga mengenai Asia dan dunia.

Follow Berita Okezone di Google News

Dalam pengantar buku Lukisan Sejarah Yamin mengulang pernyataannya "Lukisan Sejarah dan Atlas Sejarah adalah dua saudara yang sama waktu lahirnya. Kedua-duanya menitikberatkan isinya kepada Indonesia dan Asia dengan menghindarkan pendirian seolah-olah sejarah itu hanya meliputi cerita perang dan pertempuran saja, padahal acap kali, dan biasanya, bersifat sejarah kebudayaan dan peradaban; seni, agama dan adat lembaga tak kurang memberi gambaran-gambaran yang tepat tentang masyarakat pada masa yang telah lampau."

Yamin adalah sejarawan Indonesia yang pengaruhnya paling besar. Bukunya, Gajah Mada, Pahlawan Persatuan Nusantara, telah diterbitkan pada 1945 dan dicetak ulang terus-menerus sampai sekarang. Saya memiliki edisi tahun 1993 yang merupakan cetak ulang ke-13. Sangat langka buku yang usianya sepanjang republik ini dan dicetak terus-menerus sejak proklamasi, perang kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru sampai era reformasi ini.

Pada 2003 terbit buku oleh generasi yang lebih muda, yaitu Renny Masmada, Gajah Mada, sang Pemersatu Bangsa, yang isinya tidak banyak berbeda dengan yang ditulis Yamin pada 1945. Yamin juga menulis tentang peperangan Pangeran Diponegoro. Yamin berhasil mengembangkan gagasan bahwa Indonesia merupakan negara kesatuan ketiga, setelah didahului oleh Sriwijaya dan Majapahit.

Ide tentang negara kesatuan ketiga ini juga diresapi oleh Nazaruddin Syamsudin dalam pidato pengukuhan guru besarnya (Melestarikan Negara Nusantara Ketiga) di Universitas Indonesia, 16 Oktober 1993. Pengaruh besar Yamin juga diwarnai beberapa aspek kontroversial, misalnya dalam kasus pidato tentang dasar negara pada sidang BPUPKI tanggal 29 Mei 1945.

Tetapi kenyataannya Yamin mengakui bahwa Bung Karno yang menggali Pancasila. Wajah Gajah Mada yang dipasang dalam buku Gajah Mada itu ternyata bukan wajah patih Majapahit yang sesungguhnya, melainkan pecahan tembikar yang terdapat di Trowulan. Bahkan terkesan bahwa wajah Gajah Mada yang "direkonstruksi" itu mirip wajah Yamin sendiri. Terlepas dari berbagai kontroversi tersebut, Yamin berjasa dalam penyusunan Undang-Undang Dasar 1945. Dia pelopor sastra Indonesia.

Kalau ditanyakan kepada musuhnya tentu penilaian terhadap Yamin akan negatif. Seperti yang ditulis Bakri Siregar, seniman Lekra yang menjadi Ketua Akademi Ronggowarsito yang berada di bawah naungan PKI, bahwa Yamin tak lebih dari "Bujangga" dalam arti penulis keraton yang akan memuaskan sang raja (Muhammad Yamin Sang Pujangga, Prisma, Maret 1982). Mutu sastra karyanya, menurut Bakri Siregar, kalah dibandingkan Rustam Effendi dengan syair Bebasari.

Tetapi Hersri Setiawan, tokoh Lekra Jawa Tengah- yang juga bersama Bakri Siregar pernah dibuang ke pulau Buru-sebaliknya menyanjung Yamin sebagai "sastrawan yang perlu diberi tempat istimewa". Selanjutnya, apakahYamin terlibat dalam Peristiwa 3 Juli 1946? Hal ini telah dijawabnya dalam buku Sapta Darma yang tebalnya 411 halaman (Bukittingi: Nusantara, tanpa tahun).

Yamin menulis drama Ken Arok dan Ken Dedes. Buku ini kemudian diterbitkan menjadi Ken Arok dan Ken Dedes: Cerita sandiwara yang kejadian dalam sejarah Tumapel-Singasari (Balai Pustaka, 1951). Sandiwara ini mulai dipentaskan sejak 27 Oktober 1928, pada saat kongres Pemuda 1928. Kemudian naskahnya dimuat pada Pujangga Baru tahun 1934. Gagasan ceritanya tentang peristiwa yang terjadi dalam sejarah Kerajaan Singasari 1222-1292, mengetengahkan pesan tentang kerukunan dan cinta tanah air yang harus selalu dipupuk.

Untuk menunjukkan kesetiaan kepada Ken Arok yang dibunuh Anusapati, Ken Dedes meminta keris Empu Gandring untuk menikam dirinya sendiri. Sebelum bunuh diri, Ken Dedes berpesan tentang tiga kebajikan manusia yaitu percaya kepada sakti, berbudi kepada bangsa dan tanah air, serta setia kepada mahkota rajasa. Pesannya yang penting adalah cinta tanah air dan kerukunan antara sesama komponen bangsa.

Kisah ini jadi lain ketika diubah oleh Pramoedya Ananta Toer (Arok Dedes, Hasta Mitra, 1999) dalam bentuk novel yang ditulis di Pulau Buru dan diterbitkan setelah Soeharto jatuh. Novel Pram menyindir tentang kudeta yang pertama di Tanah Air yang dilakukan Arok (dia tidak menggunakan kata Ken) terus terulang sampai tahun 1965.

Penelitian Lebih Lanjut

Terlepas dari beberapa kontroversi tentang Yamin, seorang peneliti LIPI yang menyelesaikan disertasi di Amerika Serikat, Fadjar Ibnu Thufail, menulis email kepada saya sebagai berikut: "Dia memang sangat gandrung dengan persatuan Indonesia, bahkan menurut saya cenderung sampai pada tahap ~memitoskan'. Tapi, lepas dari kontroversi akurasi historis pemikiran dia tentang nasionalisme, menurut saya gagasan nasionalisme Yamin ini cukup unik.

Tidak sepenuhnya nasionalisme generik, dengan merujuk pada gagasan nasionalisme Barat, tetapi tidak juga nasionalisme parokial, karena dia sangat alergi dengan gagasan nasionalisme Islam atau pun nasionalisme ala ~puncak-puncak kebudayaan'. Dalam hal ini, menurut saya, Yamin ini adalah ~the first multiculturalist' di Indonesia." Hal yang juga belum dan perlu ditulis yaitu peran Yamin sebagai ketua Dewan Perancang Nasional (Depernas). Dewan ini adalah cikal bakal Bappenas.

Depernas merancang pembangunan semesta berencana 1961-1969. Kita tahu setelah peristiwa G30S/1965 terjadi pergantian kekuasaan, sehingga rencana pembangunan itu tidak terlaksana. Menarik untuk dilihat apa yang dirancang oleh Yamin dalam pembangunan "semesta berencana". Yamin misalnya pernah mengeluarkan Peraturan Depernas setebal 622 halaman.

Yamin mengatakan bahwa pembangunan harus dilakukan secara merata, setiap daerah harus memiliki perusahaan besar. Pembangunan harus memanfaatkan kekayaan alam. Perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah diadakan. Secara teoretis, tampaknya itu sejalan dengan apa yang dicetuskan Yamin dalam sidang PPKI bahwa negara Indonesia adalah negara kesatuan dengan mempertimbangkan dekonsentrasi dan desentralisasi.

Dia sebetulnya tokoh peralihan, peralihan dari sastra lama ke sastra modern, peralihan dari zaman ke penjajahan ke zaman merdeka dengan konstitusi sendiri, peralihan dari sejarah kolonial kepada sejarah yang mengalami proses dekolonisasi. Hanya yang pertama yang tampaknya berjalan lancar, sedangkan yang kedua yaitu UUD 1945 dan sejarah nasional masih kacau, masih terus dalam suasana peralihan.

Berdasarkan uraian di atas apakah bisa disimpulkan "Yamin sejarawan Indonesia terbesar abad ini"? Masih bisa diperdebatkan jawabannya, namun yang jelas karya M Yamin telah berdampak sangat besar bagi memori kolektif bangsa Indonesia.(*)

Asvi Warman Adam

Sejarawan LIPI  

(mbs)

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini