JAKARTA - Pemerintah masih memendam angan–angan untuk menaikan gaji pejabat tinggi di pemerintahan pusat maupun daerah. Pemerintah beralasan, kenaikan gaji pejabat tinggi dari presiden hingga pejabat tinggi di daerah demi penyesuaian gaji di antara para pejabat.
Sayangnya, pemerintah hanya memikirkan kenaikan gaji pejabat tinggi negara yang notabene telah memiliki kehidupan makmur. Bagaimana tidak, mereka banyak menikmati fasilitas dan berbagai kemudahan yang diperoleh dari negara. Tentu dengan bertambahnya gaji, para abdi negara ini semakin tebal saja dompetnya. Namun penghasilan yang besar itu belum dibarengi dengan kinerja optimal mengingat persoalan bangsa, seperti kemiskinan dan pengangguran masih menjadi momok di negeri ini.
Wakil Ketua DPR Pramono Anung pun menentang rencana pemerintah menaikan gaji pejabat negara dengan alasan apapun. Pasalnya, pejabat tinggi negara sudah memiliki fasilitas yang cukup memadai dari pemerintah tanpa adanya kenaikan gaji sekalipun.
Seharusnya, jelas politisi PDIP ini pemerintah memperhatikan nasib rakyat dan pegawai di tingkat bawah, bukan memikirkan para pejabat tinggi. ”Seharusnya yang menjadi pemikiran pemerintah itu adalah lapisan yang tidak mampu. Bukan memikirkan yang sudah dapat kemudahan. Ini malah dipikirkan lagi untuk mendapatkan gaji yang lebih tinggi,” katanya.
Hal senada diutarakan Wakil Direktur Eksekutif Indonesia Budget Center (IBC) Arif Nur Alim menilai pemerintah seharusnya membangun sistem untuk meningkatkan kinerja pemerintahan.
Kenaikan gaji presiden dan pejabat tinggi tidak pantas dilakukan dengan kondisi masih banyak rakyat miskin. “Kenaikkan gaji presdien dan aparatur negara untuk sementara tidak pantas dinaikkan, memalukkan. Kalau mau pegawai kelas bawah atau eselon bawah,” katanya.
Dalam laporan The Economist pada Juli 2010 bertajuk "Leaders of the fee World", Presiden Indonesia memiliki rasio besar gaji dibanding produk domestik bruto (PDB) per person per tahun di urutan ketiga dunia.
Dalam situs itu disebut, Presiden Indonesia mengantongi gaji per tahun US$ 124.171 atau setara dengan Rp 1,12 miliar atau 28 kali PDB per orang (pendapatan per kapita). Indonesia berada di urutan ketiga dunia setelah kepala negara Kenya (US$ 427.886 sekitar Rp 3,8 miliar atau 240 kali pendapatan per kapita) dan Singapura (US$ 2,18 juta sekitar Rp 19,8 miliar atau 40 kali pendapatan per kapita).
Sementara itu dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2009 dengan perubahan kesebelas atas PP Nomor 7 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji PNS yang diterbitkan awal Januari 2009, pemerintah menetapkan gaji terendah dan tertinggi PNS sebagai berikut:
Gaji pokok PNS terendah sebesar Rp1.040.00 untuk Golongan I a dengan masa kerja 0 tahun. Gaji pokok tertinggi sebesar Rp3.400.000 bagi PNS golongan IV e dengan masa kerja 32 tahun.
Daftar Gaji PNS
Pegawai Golongan Ia dengan masa kerja 0 tahun sebesar Rp1.040.000.
Pegawai Golongan Ia dengan masa kerja 4 tahun sebesar Rp1.091.700.
Pegawai Golongan Ia dengan masa kerja 16 tahun sebesar Rp1.262.700
Pegawai Golongan II a dengan masa kerja 0 tahun sebesar Rp1.320.300.
Pegawai Golongan II b dengan masa kerja 5 tahun sebesar Rp1.462.300
Pegawai Golongan II b dengan masa kerja 15 tahun sebesar Rp1.650.800
Pegawai Golongan II c dengan masa kerja 3 tahun sebesar Rp1.487.600
Pegawai Golongan II c dengan masa kerja 7 tahun sebesar Rp1.561.600
Pegawai Golongan II c dengan masa kerja 15 tahun sebesar Rp1.720.700
Pegawai Golongan II d dengan masa kerja 3 tahun sebesar Rp1.550.600
Pegawai Golongan II d dengan masa kerja 7 tahun sebesar Rp1.627.600
Pegawai Golongan II d dengan masa kerja 15 tahun sebesar Rp1.793.400
Pegawai Golongan III a dengan masa kerja 0 tahun sebesar Rp1.655.800
Pegawai Golongan III a dengan masa kerja 4 tahun sebesar Rp1.738.100
Pegawai Golongan III a dengan masa kerja 10 tahun sebesar Rp1.869.300
Pegawai Golongan IVa dengan masa kerja 0 tahun sebesar Rp1.954.300
Pegawai Golongan IV a dengan masa kerja 4 tahun sebesar Rp2.051.400
Pegawai Golongan IV a dengan masa kerja 10 tahun sebear Rp 2.206.200
Pegawai Golongan IV a dengan masa kerja 32 tahun sebesar Rp2.880.800
Sementara untuk pejabat eselon I, yaitu:
Golongan IV d dengan masa kerja 0 tahun sebesar Rp 2.212.900
Golongan IV d dengan masa kerja 4 tahun sebesar Rp 2.322.900
Golongan IV d dengan masa kerja 10 tahun sebesar Rp 2.498.200
Golongan IV d dengan masa kerja 32 tahun sebesar Rp3.262.000
Golongan IV e dengan masa kerja 0 tahun sebesar Rp 2.306.500
Golongan IV e dengan masa kerja 4 tahun sebesar Rp 2.421.200
Golongan IV e dengan masa kerja 10 tahun sebesar Rp 2.603.900
Golongan IV e dengan masa kerja 32 tahun sebesar Rp 3.400.000
(Dadan Muhammad Ramdan)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.