JAKABARING, 1996.
Pak Junus sibuk menyusun kalimat sebagai konsep narasi untuk gambar situasi. Ia lulusan teknik tahun 1950 dari Universitas Gadjah Mada. Di dekatnya, Mukhsin bekerja menggambar teknik dengan skala ketat, termasuk rincian kompleks perumahan dan stadion baru standar internasional. Mereka, dua orang di antara para perintis kawasan yang direklamasi dari rawa-rawa, ke arah selatan sekira satu kilometer dari pusat kota.
Karena maraknya demonstrasi menentang pembangunan kawasan yang semula merupakan daerah resapan air Sungai Musi itu, disewalah Toyip untuk jasa pengamanan. Banyak yang tahu, Abah, begitu dia disapa, adalah preman yang ditakuti orang.
Kawasan itu semula dinilai lahan tidur. Padahal di situ catchment area bagi sungai purba yang membelah dua kota Palembang.
15 tahun kemudian, akibat reklamasi boleh ditanyakan kepada kalangan mahasiswa Universitas Muhammadiyah, yang mengolok-olok kampusnya sendiri sebagai “kampus bawah air”. Sebab setiap musim hujan, bangku kuliah tidak lagi berfungsi jadi tempat duduk, tapi jadi tempat berdiri.
Kini, pesta olahraga se-Asia Tenggara ke-XXVI antara lain 22 cabang olahraganya dipertandingkan di Jakabaring. Ada rumor lobi kuat mantan Gubernur Sumatera Selatan Rosihan Arsyad lewat Komite Olimpiade Indonesia membuat ada saja event digelar demi menghidupi dan menghidupkan Jakabaring Sport City Complex. Salah satunya, termasuk SEA Games sebagai kalender keolahragaan regional KOI/KONI 2011.
Tapi amat disayangkan belum satu orang Palembang pun menentang pembangunan Wisma Atlet di sana. Artinya, barangkali, mereka sudah rela sebagian tanahnya dibangun dengan dana terindikasi korupsi. Padahal karena tindakan kejahatan itu, nuansa pembangunan Wisma Atlet juga jadi haram tidak suci lagi. Kendati biayanya dikumpulkan dari pajak yang mereka bayar. Secara ikhlas atau tidak...
Di sana, tanah di mana dulu Abdusshomad Al Palimbani mengajarkan nilai-nilai Islami yang paling menawan melalui rapalan Ratib Saman di Mesjid Agung. Hanya sekilometer saja jaraknya dari Jakabaring.
Maka, kita mungkin boleh mengingat lagi mereka yang merintis reklamasi di Jakabaring pada 15 tahun silam. Eddy yang saban lembur selalu ditelepon setiap pukul sepuluh malam disuruh pulang oleh nyonya. Pak Junus yang sibuk, Mukhsin yang tekun. Mereka bertiga, tak disangka, ditelikung oleh Nazaruddin.
Tokoh terakhir ini kini pelarian. Ia bisa dipanggil Nazar, bisa dipanggil Udin. Tapi tidak bisa dipanggil KPK.
Oh, ya! Jakabaring bukan berasal dari nama pangeran jadi-jadian seperti beredar cerita legenda bohong-bohongan selama ini. Dulu, kawasan itu diistilahkan sebagai tempat jin buang anak saking seramnya. Hanya segelintir orang yang mau tinggal di sana.
Mereka orang Jawa-Kayuagung-Batak-Komering cuma berempat keluarga saja. Dari akronim yang menggabungkan asal suku penghuni cikal-bakalnya, kawasan itu mendapat nama. Sayang, akibat kasus Wisma Atlet namanya pun akhirnya memburuk pula.
(M Budi Santosa)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.