Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Memahami Aksi Demonstrasi Mahasiswa

Memahami Aksi Demonstrasi Mahasiswa
Aksi demo tolak kenaikan harga BBM (foto: Dede Kurniawan/okezone)
A
A
A

APAKAH yang terbayang di pikiran Anda; demonstrasi massa yang menyebabkan kemacetan dan kerusuhan? Hal yang sama terbayang di kepala saya setiap mendengar kata aksi mahasiswa, hingga beberapa bulan yang lalu. Demonstrasi tidak ada manfaatnya. Tetapi, setelah saya menjadi mahasiswa, menjadi staf organisasi kampus, saya melihat gambaran demonstrasi dari sisi lain.  
Setiap aksi punya landasan
 
Jangan pikir, aksi turun ke jalan mahasiswa itu tidak memiliki landasan. Sebagai pemuda intelek, mahasiswa melakukan kajian terlebih dahulu; baik secara strategis ataupun responsif, dari berbagai disiplin ilmu. Tidak jarang, dalam mengkaji, mahasiswa melakukan audiensi kepada para pakar. Kemudian hasil kajian ini akan menghasilkan suatu rekomendasi. Rekomendasi tersebut diajukan ke stakeholder melalui advokasi atau jalan diplomasi lainnya. Apabila segala jalan diplomasi telah dilaksanakan dan tidak berhasil, barulah cara terakhir, turun ke jalan, ditempuh.
 
Mahasiswa melaksanakan aksi tidak lain adalah untuk kepentingan masyarakat. Ketika para pejabat dan wakil rakyat sekalipun tidak berpihak kepada rakyat, lalu siapa yang akan membela rakyat? Namun, nampaknya tidak semua masyarakat merasa kepentingannya dibela oleh mahasiswa. Tidak semua rakyat merasa diuntungkan dengan aksi mahasiswa. Ada yang justru merasa terganggu. Bahkan, dari kalangan mahasiswa sendiri.
 
Ingat semboyan negara ini; Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetapi tetap satu. Tetap satu, walaupun berbeda-beda. Intinya, perbedaan itu nyata di negeri ini. Baik untuk satu golongan, belum tentu baik juga untuk golongan yang lain. Toleransi yang seharusnya menjembatani keduanya.
 
Tidak semua mahasiswa akan menjadi ilmuwan; akan ada yang menjadi aktivis sosial, negarawan, pengusaha, atau profesi lainnya. Suatu komunitas tidak akan terbentuk apabila semua masyarakatnya menjadi negarawan. Perbedaan itu perlu. Mungkin sekarang, mahasiswa yang tidak ikut aksi mencemooh mereka yang ikut aksi. Tetapi mereka tidak punya hak untuk melarangnya dan meminta mereka berkegiatan seperti mereka. Sekali lagi, beda sudut pandang itu wajar, toleransi itu harus.
 
Kekerasan bukan bagian dari aksi!
 
Media memberitakan baru-baru ini, aksi mahasiswa berujung ricuh dan rusuh. Justru pelaku kekerasan tersebut yang perlu dipertanyakan statusnya; apakah mereka benar-benar mahasiswa? Saat menjadi siswa sekolah dasar, siswa yang berkelahi tentunya akan dihukum oleh gurunya. Apakah selama 12 tahun sekolah (ditambah taman kanak-kanak dua tahun, jadi 14 tahun), pernah kita diajarkan untuk melegalisasi kekerasan? Sama halnya, ketika siswa tersebut diberi imbuhan “maha”. Kekerasan tidak pernah dilegalisasi. Mahasiswa yang melakukan kekerasan dan kericuhan saat aksinya telah melanggar kontrak status-nya sebagai mahasiswa.
 
Hingga saat ini, aksi turun ke jalan ditempuh karena belum ada cara terakhir lain yang dapat memberikan efek yang sama kuatnya. Anda punya solusi lain?
 
Meski demikian, kejadian baru-baru ini tentang rusuhnya aksi mahasiswa menimbulkan trauma tersendiri di masyarakat. Ditambah lagi media yang terfokus pada kejadian, bukan pada gagasan yang dibawa dalam aksi tersebut. Mengutip Eleanor Roosevelt, “Great minds discuss ideas. Average minds discuss events. Small minds discuss people”.
 
Kita hanya akan menjadi orang rata-rata apabila terus membicarakan peristiwa. Jika ingin menjadi orang yang di atas rata-rata, cobalah berbicara tentang ide. Sayangnya, saat ini masyarakat kurang tercerdaskan oleh media, yang terus memberitakan peristiwa. Media kurang berani untuk memberitakan aksi damai mahasiswa, dan mengekspos gagasan yang dibawanya. Yang diungkit selalu yang bermasalah.
 
Alangkah lebih baik apabila media menjembatani ide-ide dari mahasiswa ke masyarakat, seakan memberikan umpan agar rasa toleransi itu tumbuh di masyarakat. Agar masyarakat pun memiliki kesempatan melihat kebijakan dari sisi pemerintah dan kajian mahasiswa. Bukankah untuk menjadi open minded, kita perlu memiliki wawasan yang luas? Wawasan yang luas tidak akan didapat apabila hanya melihat dari satu sisi, satu sudut pandang. Jangan pernah puas melihat dari satu sisi saja.
 
Dua orang yang saling tidak mau melihat sudut pandang satu sama lain, tidak akan pernah memahami satu sama lain, kan?
 
Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!
 
Gusti Adintya Putri
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad)
Staf Kementerian Kajian Strategis BEM KEMA Unpad

(Rifa Nadia Nurfuadah)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement