Share

Demokrasi AS Bawa Kepentingan Israel

Aulia Akbar, Okezone · Selasa 01 Mei 2012 18:01 WIB
https: img.okezone.com content 2012 05 01 411 621938 ZAn5cC6OeG.jpg Presiden Obama saat Pemilu Presiden AS 2008 (Foto: AFP)

JAKARTA - Akademisi dari Lee Kwan Yew School Profesor Kishore Mahbubani menjelaskan beberapa catatan baik dan buruk terkait kemunculan isu demokrasi di dunia ini. Dirinya pun mengatakan, banyak kesulitan ketika muncul pertanyaan dari manakah asal paham tersebut.

"Berita baik tentang demokrasi adalah masyarakat di dunia ini mulai sadar akan ketidakefektifan sistem feodal yang dulu dianut sejumlah pemimpin di dunia ini. Namun berita buruknya adalah ketika suatu pihak bertanya, dari mana mereka dapat belajar demokrasi?" ujar Mahbubani, di Sekretariat Jendral ASEAN, Jakarta, Senin (1/5/2012).

Mahbubani menjelaskan, adanya proses disfungsi di dalam tubuh negara yang menganut paham demokrasi. Seperti halnya Amerika Serikat (AS) yang sering disebut-sebut sebagai negara promotor demokrasi di dunia ini. AS pun mengalami sejumlah disfungsi dalam proses pembuatan kebijakan di Kongres.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

"Pada dasarnya demokrasi merepresentasikan sebuah kepentingan, lihatlah di AS ada kubu-kubu di dalam Partai Republik maupun Demokrat. Beberapa di antara mereka membawa kepentingan Israel (Israel Lobby), semetara itu ada pula lobi buruh, pekerja dan lainnya," jelasnya.

Menurut akademisi Singapura itu, tidak akan ada yang politisi yang hendak membawa suara rakyat. Mereka akan mendapat tekanan yang cukup hebat. 

Mahbubani bahkan mengutip perkataan Presiden Kedua AS, John Adams yang mengatakan bahwa demokrasi lebih berdarah ketimbang aristokrasi dan monarki. Para pemikir-pemikir kuno seperti Plato, Aristoteles dan lainnya juga tidak menjadikan paham demokrasi sebagai "Tuhan."

"jangan memulai asumsi bahwa demokrasi akan menghasilkan kebaikan. Demokrasi akan tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik meski kalian adalah Amerika Serikat (AS), Afrika, dan negara-negara lain," tegasnya.

Ketika menyoroti kasus India, Mahbubani menceritakan, Perdana Manmohan Singh dipilih lewat pemilihan umum yang demokratis. Singh bahkan menjanjikan segenap paket kebijakan yang akan mensejahterakan rakyat lewat demokrasi. Namun saat ini, koalisi India pun pecah dan masalah bermunculan di Negeri Bollywood.

(faj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini