Share

Serbia di Bawah Pimpinan Sekutu Slobodan Milosevic

Aulia Akbar, Okezone · Jum'at 27 Juli 2012 12:02 WIB
https: img.okezone.com content 2012 07 27 414 669343 r2uPQ5SqoO.jpg Foto : Ivica Dacic (Today Zaman)

BEOGRAD - Mantan sekutu dari Slobodan Milosevic, Ivica Dacic, resmi menjadi Perdana Menteri Serbia pada hari ini. Naiknya Dacic ke tampuk kekuasaan pun cukup menuai kekhawatiran dari negara-negara Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa.

Anak didik pembantai Muslim Bosnia itu menepis segala bentuk pernyataan yang menyebutkan bahwa dirinya akan membawa Serbia ke arah yang berlawanan dengan Uni Eropa. Sebelum Dacic naik ke kursi perdana menteri, Serbia dipimpin oleh kelompok reformis yang menggulingkan kekuasaan Milosevic 12 tahun yang lalu dan lebih pro-Uni Eropa.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Meski demikian, Dacic yang berasal dari kubu sosialis itu menjelaskan kembali bahwa dirinya tidak akan mengembalikan Serbia seperti pada saat Milosevic berkuasa. Dacic pun tidak ingin mengingat-ingat masa lalu Serbia yang cukup gelap.

"Bila mereka mengatakan, Balkan sebagai 'darah dan madu,' pertumpahan darah sudah cukup, saat ini adalah saat untuk merasakan manisnya madu. Serbia menawarkan upaya rekonsiliasi kepada seluruh pihak. Janganlah kita mengulang masa lalu, bergeraklah untuk menuju masa depan," tegas Dacic, seperti dikutip Reuters, Jumat (27/7/2012).

Belakangan ini, Barat juga giat mengawasi Dacic sebagai Perdana Menteri Serbia. Dacic juga memiliki hubungan yang akrab dengan Presiden Tomislav Nikolic.

Dacic sebelumnya adalah juru bicara bagi Milosevic dan sempat memiliki sikap anti-Barat. Namun saat ini, masa depan Serbia ada di tangannya.

Di saat Dacic masih menjadi rekan dekat Milosevic, Milosevic pun mengobarkan perang Balkan dan membantai ribuan warga Muslim di Bosnia. Milosevic juga bermain dalam peperangan terakhirnya di Kosovo.

Terkait kasus Kosovo, Dacic sepakat untuk melanjutkan proses dialog yang dimediatori oleh Uni Eropa. Dacic ingin memperbaiki hubungan antara negaranya dan bekas provinsinya yang memisahkan diri. Meski demikian, Serbia tetap tidak sudi untuk mengakui Kosovo sebagai negara yang berdaulat.

(AUL)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini