KENDAL- Bakso yang diduga menggunakan daging sapi gelonggongan dan berformalin beredar di pasar tradisional Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Hal itu diketahui saat tim gabungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) beserta Dinas Peternakan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, melakukan inspeski mendadak (sidak) di pasar-pasar.
Kecurigaan petugas bermula saat melihat bakso berukuran besar yang dijual pedagang, Kamis (20/12/2012) pagi. Warna bakso gelap kehitaman dan tidak tercium bau amis daging, melainkan bau menyengat bahan kimia. Selain itu, bakso juga terlalu keras berbeda dengan bakso daging sapi yang agak lentur.
Kabid Perdagangan Disperindag Kendal, Heru Yuniarso, mengatakan, dugaan sementara, bakso tersebut diolah dari daging sapi gelonggongan yang dicampur dengan bahan kimia formalin.
Penambahan formalin bertujuan untuk mengawetkan bakso, karena bakso daging gelonggongan cepat membusuk. Untuk memastikannya, petugas mengambil sampel bakso untuk diteliti di laboratorium.
Penggunaan daging gelonggongan untuk membuat bakso diduga karena harga daging sapi mencapai Rp80 ribu per kilogram. Padahal harga jual bakso cukup murah yakni Rp10 ribu untuk 100 butir.
Selain memeriksa bakso yang dijajakan pedagang, petugas juga menyisir tempat-tempat penggilingan daging, untuk mengantisipasi pengoplosan daging babi, namun tim gabungan tidak menemukan campuran daging babi.
Heru menegaskan, pihaknya akan terus melakukan pemantauan di penggilingan daging, untuk memastikan kesehatan bakso. Hal tersebut dilakukan agar masyarakat tidak was-was dan takut mengonsumsi bakso.