Share

Dukungan Ulama, Syair Lagu hingga Teken Kontrak dengan PKB

Oris Riswan, Okezone · Jum'at 26 Juli 2013 11:37 WIB
https: img.okezone.com content 2013 07 26 339 842844 gkQoEPJQX2.jpg Rhoma Irama (foto: Heru)

JAKARTA - Rhoma Irama sudah mantap akan maju sebagai calon presiden (capres) dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada Pemilu 2014. Tekad untuk maju sebagai capres menurutnya butuh perjalanan panjang.

Seperti apa lika-liku raja dangdut itu hingga akhirnya mantap mencalonkan diri?

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Pada 2004, dia mengaku pernah didatangi ulama dan elit politik yang ingin mengusungnya sebagai capres. Mereka berpandangan Rhoma punya visi-misi, elektabilitas, kredibilitas, termasuk popularitas untuk jadi capres.

Ulama dan elit politik saat itu menyebut Rhoma pantas karena selama ini punya visi-misi yang jelas melalui syair lagu. Sebelum dunia internasional mengajak untuk menghormati hak azasi manusia (HAM), Rhoma sudah melakukannya melalui lagu HAM.

"Kedua, sebelum dunia internasional mengajak memberantas korupsi dan KPK dibentuk di Indonesia, pada 1982 katanya anda (Rhoma) sudah melakukannya melalui lagu 'Indonesia'," kata Rhoma di Bandung, Jawa Barat, Kamis (25/7/2013) malam.

Ketiga, menurutnya, para ulama dan elit politik saat itu memandang dirinya punya komitmen untuk membangun moral bangsa. Itu terliha lewat lagu seperti 'Judi' dan 'Miras Santika'.

Tapi, dia mengaku menolak dengan alasan jadi presiden punya tanggung jawab yang besar kepada rakyat dan Allah SWT. "Enakan jadi raja dangdut," kelakarnya.

Pada 2009, Rhoma mengaku kembali ditawari untuk manggung di pentas Pemilu. Saat itu dia didatangi tim kampanye salah satu kandidat untuk melamarnya jadi cawapres. Tapi dia kembali menolaknya. "2004 saja saya ditawarin jadi capres saya tolak, apalagi jadi cawapres," ungkapnya.

Lalu pada 2012, Rhoma mengaku kembali didukung para ulama untuk maju pada Pemilu 2014. "Bedanya dulu saya menolak. Tapi kali ini saya terpanggil untuk memperbaiki bangsa ini," cetusnya.

Alasannya, dia melihat bangsa ini semakin jauh dari nilai-nilai ketuhanan, persatuan, musyawarah untuk mufakat, hingga keadilan sosial. Itu terlihat dari tidak adanya satu hari pun di media yang tidak dihiasi hujat-menghujat dan caci-maki, serta fitnah antarelit politik.

"Tidak ada satu hari berlalu tanpa anarkisme yang dilakukan berbagai komponen bangsa. Tidak ada satu hari pun tanpa konflik horizontal, ribut antaragama, antarmahasiswa, antarumat beragama saling bunuh, tingkat kriminalitas makin banyak, sampai kejahatan kerah putih," paparnya.

Pak Haji, begitu Rhoma biasa disapa, lalu menyanggupi permintaan para ulama untuk nyapres. Tapi, ada satu syarat. Dia bersedia maju jika dukungan ulama di Indonesia makin banyak dan ada parpol yang mau mengusungnya jadi capres.

"Pada 2 April (2013) datang Cak Imih (Ketum PKB, Muhaimin Iskandar) dengan teman-teman dari PKB. Kita punya komitmen bersama. Saya sudah teken kontrak dengan PKB, PKB akan mencalonkan Rhoma Irama sebagai capres pada 2014," tandas Rhoma.

(trk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini