JAKARTA - Polisi menembak penjahat mungkin biasa. Tapi, apa jadinya jika polisi yang ditembak mati pelaku kriminal. Hal itu terjadi pada 2013. Semakin mengejutkan karena pelaku mengincar beraksi di wilayah hukum Polda Metro Jaya.
1. Peluru menembus dada Aipda Patah Saktiyono,
Sabtu, 27 Juli 2013, merupakan awal petaka bagi anggota Polri. Aipda Patah Saktiyono, ditembak orang tak dikenal di Jalan Cireundeu Raya, Ciputat, Tangerang Selatan, sekira pukul 04.30 WIB.
Mungkin, Patah tak punya firasat jika pagi itu akan nahas. Saat warga lain masih terlelap dengan mimpi, polisi lalu lintas Polres Metro Jakarta Pusat itu berangkat kerja dari kediamannya di Bojongsari, Depok.
Tiba-tiba, dua orang yang mengendarai sepeda motor mengokang senjata api dan menembak dada kiri pria berusia 53 tahun itu, hingga tembus. Jarak pelaku dengan korban diduga sangat dekat.
Setelah ditembak, Patah yang saat itu mengenakan kaus dinas bertuliskan polisi, masih berusaha mengendarai kendaraannya sejauh 200 meter sampai di sebuah masjid. Berkat pertolongan warga, nyawanya bisa diselamatkan. Selanjutnya dia dibawa ke Rumah Sakit Polri di Kramat Jati, Jakarta Timur.
2. Aiptu Dwiyatna ditembak di kepala hingga tewas,
10 hari kemudian, pelaku penembakan kembali beraksi. Sasarannya masih anggota Korps Bhayangkara. Rabu, 7 Agustus 2013, Aiptu Dwiyatna (50), terkapar tak bernyawa setelah peluru menembus helm dan bersarang di kepalanya.
Penembakan terhadap anggota satuan Pembinaan Masyarakat (Bimas) Polsek Metro Cilandak itu terjadi di Jalan Otista Raya, Ciputat, Tangerang Selatan. Pelaku lagi-lagi beraksi pada pagi hari, sekira pukul 05.00 WIB.
Niat korban berangkat ke Lebak Bulus untuk memberikan ceramah akhirnya pupus. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto mengatakan, dugaan sementara penembakan terhadap Dwiyatna berkaitan dengan penembakan terhadap penembakan Aipda Patah.
Mendengar keterangan saksi, memang ada kesamaan fakta penembakan terhadap keduanya. Fakta pertama, pelaku memepet korban yang mengendarai sepeda motor Suzuki Smash 2643-31 VII.
Pelakunya juga dua orang yang mengendarai sepeda motor. Fakta lainnya, pelaku juga nekat menembak Dwiyatna dari jarak dekat.
"Korban ditembak pada bagian kepala. Penembakan dilakukan dari jarak dekat. Kami menduga ini masih berhubungan," kata Rikwanto, saat itu.
3. Polisi narkoba, AKP Tulam Nyaris Jadi Korban,
Suara letusan senjata mengejutkan warga Perumahan Banjar Wijaya, Kelurahan Cipete Pinang, Kota Tangerang, 13 Agustus 2013. Rumah anggota Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya, AKP Tulam yang ada di Cluster Yunani, perumahan tersebut ditembak orang tak dikenal.
AKP Tulam nyaris jadi korban karena penembakan terjadi tak lama setelah dia keluar rumah untuk berangkat dinas, sekira pukul 06.00 WIB. Dor! suara tembakan terdengar. Peluru memecahkan kaca rumah dua lantai itu.
Istri Tulam yang baru saja beranjak dari pintu gerbang untuk mengantar suaminya kerja, terkejut. Tulam memutuskan untuk kembali masuk rumah dan mengecek kejadian itu.
Hasil olah tempat kejadian perkara, aparat tidak menemukan proyektil. Diduga, pelaku menembak dari luar pintu gerbang, menggunakan airsoft gun.
4. Pelaku Tembak Mati 2 Polisi Sekaligus
Rentetan penembakan terhadap anggota polisi belum berhenti. Sabtu, 17 Agustus 2013, orang tak dikenal menembak mati dua anggota Polsek Pondok Aren. Kejadian berlangsung sekira pukul 22.00 WIB, di Jalan Graha Raya, Pondok Aren, Kota Tangerang.
Dua orang pelaku awalnya mengincar Aipda Kus Hendratna. Pelaku yang mengendarai sepeda motor Yamaha Mio warna hitam mempet sepeda motor Aipda Kus yang saat itu menuju Polsek Pondok Aren untuk ikut apel persiapan operasi cipta kondisi.
Tiba-tiba, pelaku mengokang senjata dan menembak bagian belakang kepala Aipda Kus. Polri kembali berduka karena Aipda Kus tewas saat itu juga.
Rupanya, saat itu ada Tim Buru Sergap yang hendak melintas menggunakan mobil Toyota Avanza dari arah yang sama. Di dalamnya ada empat anggota. Melihat kejadian itu, mereka langsung mengejar dan menabrak motor pelaku.
Sayang, mobil yang dikemudikan Bripka Maulana terperosok ke got. Kemudian, Bripka Maulana berusaha keluar dari mobil. Pelaku turun dari motornya dan menembak Bripka Maulana hingga tewas.
Sempat terjadi baku tembak antara tiga rekan Bripka Maulana dengan pelaku. Aksi itu tak berhasil melumpuhkan pelaku. Pelaku kemudian merampas sepeda motor milik warga dan kabur ke arah Pamulang.
Saksi di lokasi melihat pelaku ada yang terluka dan memegang senjata api. Sedangkan sepeda motor pelaku, tertinggal di lokasi kejadian.
Polda Metro Jaya kemudian merilis sketsa dua pelaku penembakan di Pondok Aren, berdasarkan keterangan saksi di lokasi. Pelaku pertama diperkirakan berusia 30 tahun, dengan tinggi 170 sentimeter (cm), berbadan gemuk, dan berkulit hitam.
Sedangkan pelaku kedua, diperkirakan berusia kurang lebih 27 tahun, tinggi 168 cm, kulit hitam, bertubuh kurus dengan rambut ikal tipis.
Jumat, 30 Agustus 2013, Polda Metro Jaya menetapkan dua orang dalam daftar pencarian orang, Hendi Albar (29) dan Nurul Haq (26). Keduanya diduga terlibat penembakan polisi.
Saat pengejaran terhadap keduanya dilakukan, penembakan terhadap anggota polisi kembali terjadi.
5. Bripka Sukardi Tewas dengan Tiga Tembakan
Setelah beraksi di pinggir Ibu Kota, pelaku penembakan mengincar polisi di tengah kota. Adalah anggota Provost Bripka Sukardi yang jadi korban. Dia diberondong peluru di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan.
Pelaku tiga orang mengendarai dua sepeda motor beraksi sekira pukul 22.20 WIB, Selasa, 10 September 2013. Saat itu, korban mengendarai sepeda motor Supra X 125 sedang mengawal perjalanan truk untuk proyek di Jalan Rasuna Said.
Pelaku mungkin sudah membututi korban. Persis di depan Gedung KPK, pelaku menyalip laju sepeda motor Sukardi. Tanpa basa-basi, pelaku langsung menembak Sukardi sebanyak tiga kali. Melihat Sukardi tak berdaya, pelaku mangambil senjata Revolver yang terselip di pinggang Sukardi, lalu kabur.
Peluru menembus dada dan perut warga Jalan Cipinang Baru Raya, Cipinang Kebembem, Jakarta Timur, itu. Darah segar keluar hingga menembus seragam warna cokelat.
Sontak saja, arus lalu lintas di Jalan Rasuna Said yang sudah mulai sepi, kembali ramai. Polisi, wartawan dan warga berdatangan ke lokasi kejadian. Jasad pria yang dikenal senang gotong royong itu dibawa ke Rumah Sakit Polri.
Usai Sukardi menjadi korban, Polri mengimbau kepada jajarannya untuk meningkat kewaspadaan. Beragam komentar soal latar belakang pelaku bermunculan. Ada yang menyebut ini ulah teroris, namun tak sedikit juga yang ragu.
***
Senin, 16 Desember 2013, di depan anggota Komisi III DPR, Kapolri Jenderal Sutarman mengklaim telah menangkap tujuh pelaku penembakan terhadap polisi.
"Polri berhasil tangkap tersangka tujuh orang yang diduga jaringan penembakan anggota kepolisian," kata Sutarman dalam rapat dengan anggota Komisi III.
Nama-nama pelaku penembakan yang berhasil diringkus oleh Polri adalah Iqbal, Asep, Budi Alamsyah, Arif, Widagdo, Suyono dan Cahyo.
Menurut Sutarman, Polri juga masih berusaha menangkap Nurul Haq dan Hendi Albar. "Ini yang langsung menembak anggota Polri yang menjadi korban beberapa saat lalu," paparnya.
***
Bagaiamanapun, masyarakat menaruh harapan besar kepada Polri untuk mampu menangkap semua orang yang terlibat dalam kejadian itu. Jika tidak, kredibilitas Polri juga yang akan jadi taruhannya. Akan muncul juga pertanyaan, jika polisi saja tidak aman, lalu bagaimana dengan masyarakat sipil?
Kasus penembakan terhadap Polri juga menunjukkan jika pelaku teror semakin berani dalam menjalankan aksinya. Namun, Polri tak boleh kalah, apalagi sampai takut. Pelaku teror harus ditumpas sampai ke akar-akarnya.
(Tri Kurniawan)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.