AWAL 2013 keajaiban muncul di Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar). Warga digegerkan dengan semburan air tawar yang muncul di bibir Pantai Pajala, Kelurahan Takatidung, Kabupaten Polman.
Ratusan warga secara bergantian berbondong-bondong datang ke lokasi untuk melihat langsung fenomena tersebut. Mereka penasaran adanya air tawar yang menyebur di antara air asin. Lokasi semburan air telah dibentuk menyerupai sumur dengan diameter 80 sentimeter.
Warga memanfaatkan air itu tidak hanya sebagai sumber air minum. Air tersebut bahkan diambil untuk dijadikan obat karena diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit kulit, seperti gatal-gatal, panu, kadas, dan berbagai penyakit kulit lainnya.
"Tidak ada salahnya mencoba, siapa tahu air ini memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit kulit," tutur Ruslan, warga Kecamatan Binuang, Jumat 25 Januari.
Semburan air tawar ini semakin banyak dikunjungi warga. Hal itu setelah cerita dari mulut ke mulut terus menyebar hingga hampir seluruh warga Polman sudah mengetahuinya.
Tak kalah unik, peristiwa yang terjadi di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebuah pohon yang tumbang setelah dihantam angin kencang, mendadak bisa berdiri lagi.
Tak pelak, pohon yang tumbuh di kawasan hutan Keramat Putun, Desa Persiapan Nifunenas Lapeom, Kecamatan Insana Barat, itu menjadi perhatian warga. Pohon berusia ratusan tahun itu tumbang diterpa badai pada 2011, namun pada Desember 2012, pohon itu berdiri tegak kembali.
Michael Nesi Tnomat, warga setempat, menjelaskan, lokasi sekitar pohon ajaib itu merupakan tempat ritual suku besar Sunhaki-Tnomat untuk meminta hujan. Peristiwa mistik itu terjadi saat dia menggarap lahan di sekitar lokasi.
”Kami kaget karena ada bunyi keras patahan disusul dengan bunyi gemuruh di sekitar pohon kering yang sudah lama tumbang,” ungkap Michael, Sabtu 26 Januari.
Pohon tumbang akibat terjangan angin hingga akarnya terangkat. Setelah setahun tumbang, bagian akar lapuk. Namun anehnya, pohon tersebut bisa kembali berdiri tegak. Dinaiki pun, pohon tersebut tidak ambruk.
Sebelum tumbang, pohon tersebut memiliki tinggi 12 meter dan diameter 75 sentimeter. Oleh warga bernama Joni Naitili, pohon tersebut digergaji menggunakan chainsaw pada Desember 2012 sehingga kini ketinggiannya hanya tersisa tiga meter. Namun, dua hari setelah memotong bagian tengah pohon, Joni meninggal dunia.
Sejak pohon itu berdiri, warga sempat tidak berani mendekat hingga tetua adat desa meyakinkan pohon itu tidak berbahaya, warga pun berani mendekat. Namun, tetua adat memeringatkan agar warga tidak mendekati pohon tersebut sendirian. Oleh warga, pohon itu diberi nama Hau Babu "I"
Dua bulan kemudian, para pedagang di Pasar Kidul, Kabupaten Bangli, Bali, dihebohkan dengan peristiwa aneh. Seorang pedagang melihat ada ular misterius yang memakan uang di tasnya. Tak berapa lama ular tersebut kemudian menghilang.
Pedagang bernama Ni Komang Ariani, warga Banjar Blumbang, tersebut pingsan dan syok berat. Dia harus menjalani perawatan di RSUD Bangli.
Wayan Suartini, saksi mata, Senin 4 Maret, menuturkan, korban mengaku melihat tasnya bergerak-gerak seperti ada sesuatu di dalamnya. Saat dicek dalamnya ada seekor ular. Ular kecil berawarna hitam tersebut sedang berusaha menelan selembar uang Rp100 ribu. Karena terkejut, Ariani pingsan.
Suartini menduga ular berukuran panjang sekira 50 sentimeter dan lebar tubuh setelunjuk orang dewasa itu merupakan siluman. Pasalnya, sebelumnya tidak ada penemuan ular seperti itu di sekitar pasar dan peristiwanya tergolong aneh. Tidak satu pun orang yang melihat ular masuk dalam tas padahal ada banyak orang.
Kejadian tersebut sempat membuat suasana pasar heboh. Terlebih, tidak hanya korban yang melihat, namun sejumlah pedagang lain juga sempat melihat penampakan ular aneh tersebut sampai hilang secara misterius.
Setelah sadar, Ariani sempat memeriksa jumlah uang di tasnya dan ternyata benar, uangnya berkurang Rp100 ribu.
Keajaiban selanjutnya terjadi Desa Pagar Jati, Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu. Warga digemparkan dengan penampakan makhluk seperti alien yang tertangkap kamera telefon genggam seorang warga pada Juni 2013.
Makhluk itu tampak sedang menempel di belakang seorang remaja perempuan di sebuah acara resepsi pernikahan. Kepala Desa Pagar Jati, Junia, Jumat 28 Juni, menjelaskan, foto penampakan alien itu tidak sengaja terekam saat salah seorang warga mengambil foto.
Anehnya, secara mendadak kamera tersebut memotret dengan sendirinya. Hasilnya, muncul penampakan makhluk itu. Foto itu pun menjadi heboh setelah menyebar dari mulut ke mulut, hingga banyak warga yang datang ke pemilik foto untuk melihat penampakan tersebut.
Pemilik foto tidak menelusuri lebih lanjut keaslian foto tersebut dengan mendatangkan ahli, warga berkeyakinan makhluk tersebut tidak diada-adakan. Hingga kini kebenaran penampakan alien itu masih misteri. Sebelumnya warga setempat berkeyakinan terdapat makhluk asing di wilayah mereka.
Masih dari Bengkulu, warga kembali digegerkan dengan sebuah peristiwa unik. Warga Desa Taba Rena, Kecamatan Pagar Jati, Kabupaten Bengkulu Tengah, dihebohkan dengan lahirnya anak kambing yang berwajah mirip manusia.
Mulut dan hidung kambing tersebut seperti manusia, bahkan memiliki tangan dan kaki. Tak pelak, anak ambing tersebut menjadi perhatian warga, meski sudah mati.
Nariya, pemilik kambing, Senin 2 September, menuturkan, sempat kaget dengan sesosok tubuh mirip bayi manusia berada di kandang kambing. Butuh waktu baginya untuk meyakinkan bahwa sosok yang mirip manusia itu ternyata kambing yang baru dilahirkan oleh induknya.
Sayangnya, anak kambing itu hanya berumur beberapa menit. Dugaan sementara, anak kambing tersebut lahir sebelum waktunya. Pasalnya, sebagian besar tubuhnya belum memiliki bulu, hanya kepalanya saja.
Pada Jumat 27 September 2013, warga Dusun Copala, Kelurahan Banggae, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, dihebohkan dengan penemuan benda ajaib mirip tunas kepala yang terus mengeluarkan minyak berbau wangi.
Benda ini ditemukan oleh Iskandar di bawah kolong rumahnya pada Jumat petang. Lantaran tertarik dengan bentuknya yang unik, Iskandar mengambil benda yang mirip tunas kelapa itu dan menaruhnya di sebuah mangkuk. “Lama kelamaan benda tersebut justru mengeluarkan minyak,” ujar Iskandar.
Warga yang penasaran pun beramai-ramai ingin mengambil minyak yang terus keluar dari benda tersebut yang dipercaya dapat menyembuhkan aneka macam penyakit. Alhasil, rumah Iskandar dipadati ratusan warga yang penasaran dengan penemuan benda mirip tunas kelapa yang terus mengeluarkan minyak serta berbau wangi.
Keanehan juga dirasakan warga Desa Suwat, Kecamatan Gianyar Kota, Kabupaten Gianyar, Bali. Mereka digegerkan dengan hujan lokal di bawah pohon rambutan. Butiran air terus menetes dari batang pohon kering hingga mirip hujan.
Setelah beredar dari mulut ke mulut, hujan lokal itu terus menarik perhatian warga. Dalam suasana Hari Raya Galungan pada Oktober 2013, banyak warga yang memanfaatkan waktu liburan ke lokasi tersebut.
Warga menyakini hujan lokal itu sebagai tirta atau air suci penyembuhan. Mereka pun berdatangan untuk mendapat percikannya. Bahkan, sejumlah warga juga mengonsumsinya meski belum jelas asal-usul air misterius itu.
Tetesan air mirip hujan ini juga terjadi di siang hari, meski sedikit lebih kecil dibanding saat menjelang malam hingga pagi. Belum diketahui pasti asal-usul tetesan air mirip hujan tersebut.
Salah seorang warga pernah coba memanjat untuk mencari tahu asal tetesan air, namun akhirnya turun lagi karena merasa ada yang menariknya. Menurut warga, hujan aneh itu pertama kali diketahui saat seorang petani ingin berteduh dari terik matahari.
“Namun keanehan dirasakannya, karena justru tubuhnya menjadi basah seperti kehujanan. Hujan sudah sepekan, banyak yang datang untuk mendapatkan tirta ini,”kata seorang warga, Putu Jervi Ratmawa, Kamis 24 Oktober.
Sejak saat itu, warga berdatangan ke lokasi dan sebagian lainnya membuat bangunan untuk tempat menghaturkan sesajen. Lembaran plastik pun dibentangkan untuk menampung tetesan air. Warga percaya air itu dapat menyembuhkan segala macam penyakit.
Kejadian pohon mengeluarkan air seperti hujan kembali terjadi. Kali ini terjadi di Desa Siangan, Kabupaten Gianyar, Bali. Pohon rambutan tiba-tiba mengeluarkan air rintik-rintik seperti hujan.
Peristiwa aneh tersebut sudah terjadi sejak Minggu 10 November siang. Rintik-rintik air masih keluar dari batang pohon. Tak pelak, pohon aneh itu menjadi perhatian warga.
Wayan Sukarta, warga Desa Siangan yang kali pertama melihat kejadian itu, mengatakan, saat itu dia dalam perjalanan pulang usai ronda. Saat tiba di bawah pohon rambutan merasa seperti ada yang menyiramnya.
Sukarta merasa ada kejanggalan karena cuaca cerah dan sama sekali tak ada hujan. Setelah diperhatikan, air itu bukan berasal dari langit melainkan dari pohon rambutan.
Karena fenomena ini ini terbilang aneh, warga sekitar pun lantas memberikan sesajen di bawah pohon tersebut.
Pada penghujung Oktober 2013, muncul seorang terapis spesialis telinga menemukan metode sederhana tapi ampuh untuk mengobati penderita gangguan pendengaran atau tunarungu. Terapis itu bernama Masudin (40) warga Desa Banyuarang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Dia mengklaim terapinya hanya berlangsung singkat namun dapat menyembuhkan kelainan tunarungu meski diderita sejak lahir. Namun, untuk mendapatkan terapi fenomenal itu, Masudin mematok tarif cukup tinggi.
“Tapi kepada warga yang tidak mampu saya tidak mengenakan biaya sepeser pun alias gratis,” ujar Masudin.
Keampuhan metode penyembuhan milik Masudin sudah tak perlu diragukan lagi. Lantaran itu pula tiap harinya puluhan atau bahkan ratusan orang pasien datang ke rumah Masudin untuk mendapatkan perawatan.
Masudin dalam melakukan aksinya cuma menggunakan tangan kosong. Dia hanya memijit beberapa bagian kepala sang pasien. Hebatnya, dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu menit, si pasien langsung dapat mendengar.
Untuk membuktikan hasil terapinya Masudin tidak hanya mencoba memanggil sendiri pasien yang sudah diobati, tapi juga mempersilakan warga lain membuktikannya. Seperti terhadap pasien asal Tulungagung bernama Hasyim yang baru diterapi. Dia langsung merespons ketika dipanggil usai diterapi.
“Namun karena baru pertama kali ini ia bisa mendengar, Hasyim masih belum dapat bicara, sebab ia memang belum pernah mendengar suara percakapan orang sebelumnya,” ujar Saliman, ayah Hasyim.
Hasyim hanyalah satu dari ratusan pasien dari berbagai daerah yang datang ke rumah Masudin. Dengan telaten Masudin melayani para pasiennya satu per satu. Pengabdian semacam ini telah dia lakoni sejak beberapa tahun lalu.
Hanya saja lelaki bergelar sarjana hukum ini tidak mau menjelaskan bagaimana dan di mana dia belajar menjadi terapis spesialis tunarungu yang unik tersebut. Dia hanya mengatakan kemampuannya adalah anugerah dan ingin melayani sesama yang mendapat musibah.
Dedikasi Masudin nyatanya berbuah manis. Perwakilan dari Museum Rekor Indonesia, Paulus Pangka, bertandang ke rumahnya. Dia ingin membuktikan sendiri keampuhan metode penyembuhan ala Masudin.
Setelah melakukan pembuktian secara langsung pihak MURI menyerahkan penghargaan kepada Masudin sebagai terapis yang mampu mengobati penderita tunarungu separah apa pun kondisinya dengan waktu tercepat atau hanya dalam waktu 31 detik.
Namun, terapi Masudin mendapat penilaian miring dari Dinas Kesehatan setempat termasuk paramedis. Mereka menilai terapi ala Masudin tidak dikenal di dunia medis. Selain itu indikator sembuh dari tunarungu bukan hanya dapat mendengar ketika dipanggil.
Perseteruan itu berbuntut pada rekomendasi Dinas Kesehatan untuk menutup terapi Masudin. Namun, para pasien yang berdatangan dari Jombang hingga luar Jawa, menolak rencana tersebut. Mereka bersikukuh meminta Masudin tetap melaksanakan terapi untuk menyembuhkan para pasiennya.
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.