Share

Ini Alasan Caleg Demokrat Polisikan Wartawan Koran Sindo

Stefanus Yugo Hindarto, Okezone · Kamis 20 Februari 2014 13:54 WIB
https: img.okezone.com content 2014 02 20 501 943880 NPnDIfNlf9.jpg

JAKARTA- Calon anggota legislatif partai Demokrat, M Fadhlin Akbar melaporkan jurnalis Koran SINDO, Deny Irawan, ke Polres Tangerang. Laporan itu berawal dari status BlackBerry (BB) yang dibuat Deny.

Menurut Fadhlin, kasus pelaporan terhadap saudara Denny Irawan ke Polres Metro Tangerang adalah persoalan pribadi. “Ini berakibat hukum dan menjadi tanggung jawab pribadi yang tidak terkait dengan posisi atau jabatan dan profesi apapun, seperti yang melekat pada Saudara Denny Irawan yang dikenal sebagai wartawan Koran Sindo,” kata Fadhlin dalam keterangan tertulisnya kepada okezone, Kamis (20/2/2014).

Fadhlin menuturkan, sejak tanggal 14 Februari 2014 telah menyebar informasi bohong tentang penangkapan dirinya oleh Polisi karena kasus Narkoba. “Tapi karena tidak memiliki sumber yang jelas, jadi belum ada tindaklanjut apapun dari saya dan keluarga,” kata dia.

Kemudian, pada Minggu, 16 Februari 2014 sudah banyak yang menghubungi dirinya dan keluarga serta teman yang mengkonfirmasi bahwa saya telah ditangkap. “Pertanyaan itu atas dasar informasi dari bunyi Status BB (Blackberry) atas nama “Denny Bagoes Irawan” dengan Pin: 293738FB yang berbunyi “Bener gak itu Fadlin ditangkap? # iya, anaknya WH..hadehh”. Maka, malamnya saya bermusyawarah dengan keluarga, sahabat dan beberapa wartawan yang memiliki copian atau foto yang diambil dari status atas nama Denny Irawan tersebut untuk diambil langkah-langkah menindaklanjutinya,” jelas Fadhlin.

Diungkapkan Fadhlin,  bunyi status yang ada di BB merupakan ranah (kepemilikan pribadi) yang berada di ruang publik alias terbaca oleh orang lain, terutama yang “berteman” dengannya. “Hal ini menegaskan bahwa isi status BB tersebut tidak masuk ke ranah jurnalistik alias berita surat kabar yang telah resmi terbit,” kata dia.

Bila hal itu masuk ke ranah jusnalistik, kata Fadhlin, tentunya dia paham dan akan melayangkan Hak Jawab, Klarifikasi, Somasi, ataupun laporan ke Dewan Pers. “Saya pasti akan menempuh jalur itu. Saya, keluarga, sahabat serta masyarakat juga memaklumi jika muncul semangat solidaritas sesama jurnalis, seperti tanggapan-tanggapan dari AJI, IJTI, dan atas nama perhimpunan wartawan, bila telah resmi menjadi berita di media massa,” imbuhnya.

Tapi, kata dia, bila yang terjadi adalah akibat dari perilaku pribadi, sikap atau tindakan personal pada HP BB pribadi yang bernama Denny Irawan yang jelas-jelas bukan karya jurnalistik, dia kesulitan untuk mengklarifikasi. “Bagaimana mungkin bisa diberlakukan Hak Jawab, Klarifikasi, maupun laporan ke Dewan Pers? Ini yang sangat tidak bisa diterima siapapun, termasuk saya. Terlebih ini terkait langsung dengan nama baik saya dan keluarga,” ujar dia.

Dia menegaskan, kasus pelaporan terhadap Denny Irawan ke Polres Metro Tangerang adalah persoalan pribadi. “Maka, langkah yang saya ambil ini adalah semata-mata dalam rangka mencari keadilan dan menjalankan perintah Undang-Undang bahwa setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama di mata hukum dan siapapun, bahkan profesi apapun tidak ada yang kebal hukum,” tuturnya.

Fadhlin merasa, status BBM Denny, membuatnya terdzalimi, dan teraniaya. “Saya merasa  difitnah,dan dicemarkan nama baik pribadi dan keluarga dengan adanya status BB yang ditulis oleh Saudara Denny Irawan yang telah diketahui oleh banyak orang. Lalu, mengapa ketika saya menggunakan hak saya secara sah dan benar sesuai dengan aturan hukum, justru terkesan ada yang mempersoalkan, ada yang menanggapi negatif,” katanya.

Fadhlin menilai, munculnya berbagai tanggapan-tanggapan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), IJTI, sangatlah aneh. “Sulit diterima oleh saya dan masyarakat yang berpikiran sehat. Karena yang saya lakukan bukanlah reaksi dalam bentuk kekerasan, anarkis, atau intimidasi yang destruktif dan melanggar aturan. Tapi, justru untuk mencari keadilan hukum yang menjadi hak dan kewajiban sebagai warga negara yang dilindungi oleh undang-undang,” keluhnya.

Terlebih, Fadhlin menambahkan, peristiwa yang dialaminya ini sangat mungkin dialami juga oleh siapapun warga negara dan pada profesi apa saja. “Ini untuk mengingatkan kepada masyarakat agar tidak semena-mena melakukan perbuatan yang menzalimi orang lain baik dengan cara fitnah, menyebarkan berita bohong, maupun mencemarkan nama baik pribadi orang lain dan keluarganya,” ujar dia.

Dia menyarankan agar , Denny Irawan serta pihak-pihak yang merasa berkepentingan harusnya bersikap obyektif, arif dan bijak saja dengan mengikuti proses-proses hukum demi menegakkan kebenaran dan keadilan. “Sesuai dengan prinsip yang dianut dan menjadi landasan bagi kita semua, termasuk bagi insan pers yang selalu menjunjung tinggi azas kemanusiaan, keterbukaan, profesionalisme, dan keadilan dalam pemberitaan. Bukan justru memberikan tanggapan yang reaktif dan penilaian subyektif yang akan berdampak terhadap runtuhnya nilai-nilai kebenaran dan keadilan itu sendiri,” tutup dia. (ugo)

Klarifikasi ini sebagai bahan hak jawab dalam pemberitaan okezone sebelumnya yang berjudul "Caleg Demokrat Laporkan Wartawan Sindo karena Status di BB" dengan link berita sebagai berikut:

http://jakarta.okezone.com/read/2014/02/19/501/943062/caleg-demokrat-laporkan-wartawan-sindo-karena-status-di-bb

(ahm)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini