Tanggal 9 Agustus 2014, Hendropriyono secara resmi ditunjuk Joko Widodo sebagai penasihat Rumah Transisi setelah bertemu Jokowi di rumah yang beralamat di Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat. Tak hanya dirinya, Hasyim Muzadi, Syafii Maarif, dan Luhut Panjaitan juga ikut ditunjuk jadi penasihat.
Tapi, beberapa hari kemudian, nama Hendropriyono mendadak menjadi sasaran kritik dari kelompok lembaga swadaya masyarakat yang selalu menyuarakan Hak Asasi Manusia (HAM) karena diduga terlibat pelanggaran HAM Talangsari. Dari penunjukan tersebut, Hendropriyono, dianggap berpengaruh terhadap keputusan-keputusan Jokowi. Bahkan, namanya sering disebut sebagai calon kuat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang pernah ada di era SBY.
Kekuatan pengaruh Hendropriyono terhadap Jokowi seolah mendapatkan pembenaran setelah menantunya, Andika Perkasa, naik pangkat menjadi Mayor Jenderal, setelah diangkat sebagai Komandan Paspamres (Pasukan Pengamanan Presiden).
Lalu seperti apa kedekatan Hendropriyono dengan eks Gubernur DKI Jakarta itu?. Eks Menteri Transmigrasi di era Kabinet Reformasi itu pun mengaku awal kedekatannya justru karena proyek dirinya ditolak Jokowi saat menjabat sebagai Wali Kota Solo.
Hendro bercerita saat Jokowi menjadi Wali Kota Solo dia pernah datang ke kota tersebut. Kemudian, dia melihat ada lahan kosong milik pemerintah kota. Melihat itu, dia memiliki ide untuk membuat sebuah Plasa. Tapi, bukannya mendapat kemudahan, dirinya malah mendapatkan kesulitan dari kebijakan Jokowi. Saat itu Jokowi menghentikan izin pembuatan mall atau plasa.