Pada 1984, Pemerintah Singapura mengumumkan Graduate Mother Scheme (GMS) untuk mengatasi masalah tersebut. Selain itu, pemerintah juga membentuk Social Development Unit (SDU)untuk memfasilitasi sosialisasi antara laki-laki dan perempuan yang telah lulus sarjana.
Selain hal tersebut, Lee Kuan Yew juga memberi insentif menarik bagi perempuan sarjana yang menikah dan mempunyai tiga atau empat anak dengan memberi potongan pajak serta prioritas perumahan sebagai upaya membalikkan efek dari kampanye Stop at Two pada 1960-an. GMS hanya berumur setahun dan dihapuskan pada 1985 karena protes dari warga Singapura.
6. Penyingkiran lawan-lawan politik
Tuduhan mengenai penyingkiran lawan politik telah beberapa kali dilayangkan kepada Lee Kuan Yew. Cold Storage Operation merupakan salah satu kebijakan yang mengundang dugaan ini.
Kejadian lain adalah saat Lee menuduh Francis Seow, mantan bawahannya yang berbalik menjadi oposisi, menerima dana bantuan dari Amerika Serikat untuk mempromosikan demokrasi di Singapura. Seow ditahan tanpa melalui proses pengadilan selama 72 hari dengan Undang-undang Keamanan Dalam Negeri.
Dia juga menuntut Chee Soon Juan, anggota Singapore Democratic Party (SDP), hingga Chee mengalami kebangkutan. Kejadian serupa juga dilakukan Lee kepada J.B. Jeyaretnam, Ketua Partai Pekerja Singapura (Worker’s Party).
7. Pernyataan soal Islam
Lee Kuan Yew memiliki pandangan yang kurang bersahabat mengenai agama Islam. Menurutnya, warga Muslim Singapura seharusnya sedikit lebih longgar dalam menjalankan agama mereka agar mereka dapat berintegrasi dengan warga Singapura lainnya.
Dalam bukunya ‘Lee Kuan Yew: Hard Truths to Keep Singapore Going’, Lee menyatakan Singapura berkembang dengan sangat baik sampai saat gelombang Islam muncul.