Seiring berjalannya revolusi mempertahankan kemerdekaan, APIS pimpinan Kahar dileburkan ke dalam Kebaktian Rakjat Indonesia Sulawesi (KRIS).
Kahar yang ikut mendirikan KRIS, turut membesarkan kesatuan itu dengan mendirikan berbagai cabang KRIS di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Kendati sempat keberatan lantaran KRIS terlalu “dikuasai” golongan bekas KNIL asal Minahasa-Manado, seperti Joop F. Warouw, Kawilarang dan Lembong. Pun begitu, Kahar pada bulan yang sama dan masuh di bawah komandi KRIS, ikut membebaskan 800 tahanan politik di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.
800 tahanan ikut akhirnya dimasukkan ke dalam pasukannya dan diperbantukan di Markas Besar Tentara. Namun namanya kian tersingkir dari orbit ketika mulai lahir angkatan bersenjata yang lebih profesional, Tentara Republik Indonesia (TRI, kini TNI).
Dalam pembentukan Brigade XVI KRIS yang terdiri dari kesatuan-kesatuan luar Pulau Jawa, Kahar hanya jadi orang nomor dua. Kahar yang kecewa, menolak pengakuan pimpinan Brigade XVI, mulai ketika dijabat Warouw sampai Lembong.
Seketika, sosok yang pernah disebut sebagai “La Domeng” lantaran gemar bermain domino itu melepaskan diri dari Brigade XVI. Untuk tetap mengontrol dirinya, pemerintah memberinya tugas membentuk Komando Grup Seberang.
Panglima Besar Jenderal Soedirman menugaskannya membangun komando di seberang Pulau Jawa, Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS) pada 24 Maret 1946. Kahar mengumpulkan para personelnya dari mantan anggota BKI berjumlah 1.200 personel.