Saat Jepang menyerah pada sekutu, Kahar aktif membentuk barisan pemuda. Kahar memprakarsai lahirnya Gerakan Pemuda Indonesia Sulawesi (Gepis), kemudian bertransformasi menjadi Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi (APIS) yang menjadi bagian dari Angkatan Pemuda Indonesia (API).
Dari barisan pemuda itulah, Kahar, seperti halnya Margonda, tokoh “Gedoran Depok” yang kini jadi nama jalan utama di jantung Kota Depok, mengenyam karier kemiliterannya.
Ya, Kahar memang bukan bekas Pembela Tanah Air (PETA), Heiho, Gyugun atau bahkan bekas KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger, Tentara Hindia-Belanda), seperti Panglima Soedirman, Kolonel Abdoel Haris Nasution, Letkol Achmad Jani, Slamet Rijadi, Alex Evert Kawilarang atau Adolf Lembong.
Tapi jangan tanyakan kontribusinya. Salah satu “prestasi” cemerlangnya adalah menjadi pagar hidup buat Soekarno pada rapat raksasa Ikada di Jakarta, 19 September 1945.
Dalam literatur “Tragedi Patriot dan Pemberontak Kahar Muzakkar”, dia satu-satunya pengawal Soekarno dan Mohammad Hatta dengan bersenjatakan golok, melindungi “dwi-tunggal” ketika dikelilingi hunusan bayonet tentara Jepang usai rapat dibubarkan.
Sejak saat itu, Kahar jadi pengawal “kesayangan” Bung Karno yang tergabung dalam Batalyon Kesatuan Indonesia (BKI). Dikatakan Presiden RI pertama itu, situasinya takkan melulu tenteram jika tak ada Kahar di sisinya.