LONDON - Hari ini rakyat Inggris menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2015. Mereka akan memilih pemimpin negara dengan ekonomi terbesar kelima di dunia.
Berbeda dengan pemilu sebelumnya, pesta demokrasi kali ini dianggap paling sulit diprediksi selama satu dekade.
Calon Petahana Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron dari Partai Konservatif kejar-kejaran dengan Ed Miliband, calon dari dari Partai Buruh dalam hasil polling opini yang digelar selama beberapa bulan terakhir.
"Persaingan ini menjadi persaingan yang paling ketat yang pernah saya saksikan," kata Miliband di depan pendukungnya di Pendle, Inggris, seperti dikutip dari
Reuters, Kamis (7/5/2015).
Cameron mengklaim hanya Partai Konservatif yang dapat menyelenggarakan pemerintah yang kuat dan stabil. "Partai lainnya hanya akan menimbulkan kekacauan".
Partai Konservatif menyebut partai mereka sebagai partai yang memperjuangkan lapangan kerja dan pemulihan perekonomian. Partai Konservatif berjanji mengurangi pendapatan pajak. Mereka berencana menekan pengeluaran untuk mengurangi defisit anggaran yang menggunakan lima persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Di sisi lain, Partai Buruh berjanji akan memotong defisit setiap tahun, meningkatkan pendapatan pajak bagi satu persen wajib pajak dengan pajak tertinggi, melindungi keluarga pekerja, dan meningkatkan pelayanan kesehatan.
Di Inggris, partai peserta pemilu harus mendapatkan suara lebih dari 50 persen dari 650 kursi di Majelis Rendah di parlemen supaya mereka dapat memerintah dengan aman.
Bila PM Petahana, Cameron tidak mencapai 50 persen suara maka dia akan tetap bertahan di Downing Street sampai muncul kesepakatan politik.