KLATEN – Di belakang rumah Darmo Suwignyo (80), warga Dukuh Ngruweng, Desa Wiro, Bayat, Klaten, terdapat tiga batu besar yang terletak berimpitan. Batu dengan permukaan rata serta halus itu memiliki ukuran 1,5 meter x 50 sentimeter. Tak jauh dari tiga batu itu, sebuah kolam terisi air dengan kondisi tak terlalu jernih.
Warga meyakini batu serta kolam itu merupakan peninggalan Kiai Abdul Qohhar, seorang tokoh penyebar agama Islam desa setempat. Batu dimanfaatkan sang kiai bersama dua sahabatnya untuk salat saat kali pertama mendatangi desa tersebut.
Sementara, kolam yang berjarak sekitar lima meter dari batu dimanfaatkan untuk wudu. “Satu batu yang ada pada bagian tengah digunakan mbah (Kiai Abdul Qohhar), sementara dua batu lain digunakan untuk salat makmumnya, yakni dua sahabat Mbah Abdul Qohhar. Setelah pengikutnya semakin banyak, kemudian lokasi salat pindah ke masjid,” ujar Darmo yang mengaku sebagai salah satu buyut Kiai Abdul Qohhar saat ditemui Solopos.com di rumahnya.
Darmo mengungkapkan Kiai Abdul Qohhar masih satu garis keturunan Sunan Pandanaran. Sunan tersebut dikenal sebagai salah satu tokoh penyebar ajaran Islam pada masa Kesultanan Demak dan dimakamkan di Gunung Jabalakat, Kecamatan Bayat.