“Peristiwa itu berlangsung sekitar tahun 1942 saat penjajahan Jepang. Tujuan awalnya hanya ‘nguri-uri’, pelestarian alam. Namun Pak Kades pertama itu (Suratmin) sepertinya memiliki intuisi kalau di kemudian hari, lokasi ini bakal menjadi tempat wisata yang banyak dikunjungi orang, “terang Kusno, juru kunci Telaga Rambut Monte.
Sayang, tidak banyak warga desa yang menikmati hasil jerih payahnya. Sebagian besar warga diangkut Jepang untuk dijadikan romusha (pekerja paksa). Mereka dipaksa membangun waduk raksasa di kawasan pantai selatan Kabupaten Tulungagung.
Beberapa warga kembali pulang. Namun tidak sedikit yang tidak diketahui kabar rimbanya. “Sebagian besar warga yang menjadi romusha meninggal dunia, “terang Kusno yang mengaku mendapat cerita secara turun-temurun.
Ada kisah mitos bahwa kawanan ikan sengkaring yang hidup di Telaga Rambut Monte itu bersifat metafisika atau gaib. Satwa air yang diyakini berusia ratusan tahun itu dianggap beberapa orang merupakan penjelmaan balatentara Majapahit.
Karenanya, tidak ada satu pun warga yang berani menangkap, apalagi menyantapnya. Suyono (67), warga setempat, bercerita bahwa pernah ada warga yang mencoba menangkap dan mencoba memasakna. Konon, daging ikan berubah menjadi minyak. Dan yang menyengat adalah adanya aroma amis darah.
“Oleh sebagian warga cerita itu diyakini kebenaranya. Karenanya tidak ada yang berani menangkap ikan di telaga,” timpal Suyono.