Namun konteks permasalahanya, kata Dewangga bukan pada memasak ikan. Sebab, ia bisa membayangkan betapa tidak menariknya Telaga Rambut Monte, bila ikan jenis langka itu menjadi hidangan manusia.
“Dan betapa rusaknya alam ketika pohon pohon besar di sekelilingnya dibalak hanya untuk pemenuhan pasar furniture. Sebab, cagar budaya ini harus tetap dilestarikan. Salah satunya dengan cara mempertahankan mitos dan legenda lokal yang ada” sambungnya.
Ia juga menambahkan bahwa akses jalan menuju obyek wisata Telaga Rambut Monte belum representatif. Jalan sempit dengan kondisi yang buruk, seringkali menjadi alasan para wisatawan membatalkan agenda kunjungannya.
“Dan sepengetahuan saya tidak hanya di Rambut Monte. Tapi sebagian besar akses jalan wisata di Kabupaten Blitar masih relatif kurang memadai,” tandas Dewangga.
(Randy Wirayudha)