Selama pemerintahan Taliban berkuasa, keluarga Rahmani berani menentang “fatwa” ketat yang melarang pendidikan untuk anak perempuan. Rahmani pun memilih belajar di rumah keluarganya di Kabul.
Rahmani mengatakan ia selalu ingin menjadi pilot, dan bermimpi suatu hari dia akan terbang seperti burung dan memiliki sayap sendiri. Mimpi itu dia bagi dengan ayahnya, Abdoul Wakil, yang merindukan bisa bergabung dengan Angkatan Udara negaranya pada tahun 1980-an.
Dia menghabiskan waktu setahun untuk belajar bahasa Inggris agar bisa masuk ke sekolah penerbangan dan. Dia pertama kali menerbangkan pesawat kargo. Dia mengaku pernah ditugaskan terbang ke medan perang dan terkadang bersama para korban perang yang dibungkus dalam kantong mayat.
”Saya tidak sabar untuk terbang meskipun ada risiko dan ancaman,” katanya kepada koresponden Tolo News yang terbang bersamanya ke Jalalabad, Afghanistan timur, pada bulan Mei lalu. ”Tapi gairah saya untuk terbang membantu saya menentang semua ancaman.”
Setahun yang lalu, pilot Rahmani menjadi komandan pengemudi pesawat yang dipuji para pemimpin koalisi AS. ”Dia adalah seorang pilot yang sangat berani dan terampil," kata pilot Angkatan Udara Afghanistan, Aimal Khair. “Dia telah membawa kehormatan Afghanistan.”
(Muhammad Saifullah )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.