Sebelumnya, nama jalan kampung tersebut adalah Jalan KH Ahmad Dahlan. Namun, seiring maraknya praktik poligami di kampung tersebut, nama jalan akhirnya diubah dengan nama Jalan Wayo.
Selain sebagai tanda bagi warga, Jalan Wayo juga merupakan sebuah kebanggaan karena kendati praktik poligami terjadi di kampung tersebut, keluarganya tetap berjalan harmonis. Istri tua dan muda saling menjaga toleransi meski hidup dalam satu desa.
Tohirin menegaskan, seiring perkembangan jaman, dari puluhan warga yang menganut poligami, kini penganut poligami semakin berkurang. Bahkan, warga sekarang merasa malu-malu ketika diminta cerita tentang asal muasal Jalan Wayo.
(Arief Setyadi )