Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Tiap detik, Warga Indonesia Jadi Korban Trafficking

Neneng Zubaidah , Jurnalis-Senin, 24 Agustus 2015 |10:37 WIB
Tiap detik, Warga Indonesia Jadi Korban <i>Trafficking</i>
Ilustrasi (Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Korban perdagangan orang (trafficking) semakin memprihatinkan. Di Indonesia korban trafficking mencapai 1 juta orang per tahun.

Menurut Kepala Sekretariat Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Pencegahan Orang (PP TPPO) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PP dan PA) Sri Danti Anwar, setiap satu detik, pasti ada yang menjadi korban trafficking.

Menurut Danti, data PBB menyebut 800 ribu laki-laki dan perempuan diperdagangkan menyeberangi perbatasan internasional. International Organization for Migration (IOM) mencatat 500 ribu perempuan diperdagangkan di Eropa Barat dan Asean mencapai 250.000 orang setiap tahunnya. Namun, khusus di Indonesia korban perdagangan orang 1 juta per tahun.

"Indonesia menjadi sumber, tempat transit dan penerima korban trafficking. Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur jadi sending area terbesar korban trafficking perempuan dan anak," katanya dalam Rakornas Strategi dan Inovasi dalam PP TPPO 2015-2019 dan Pengalaman Terbaik yang Sudah Dilaksanakan di Hotel Red Top Jakarta, Senin (24/8/2015).

Danti menjelaskan, meski sudah ada payung hukum yang menaungi, namun korban perdagangan orang semakin banyak karena kurangnya koordinasi. Selain itu, pembuktian kasus perdagangan orang itu sangat sulit diungkap di pengadilan. Sehingga untuk pembuktiannya perlu kerjasama banyak pihak.

Data penanganan kasus TPPO oleh Polri selama 2011-2013 menyebut, ada 509 kasus yang ditangani namun yang divonis hanya enam kasus. Dia menyebut, tidak menutup adanya keterlibatan oknum aparat pemerintahan menyebabkan pelaku perdagangan orang sulit ditangkap.

Danti mengungkapkan, modus yang sering dipakai ialah pengiriman TKI perempuan. Adanya supply and demand yang tinggi dengan modus TKI, karena pekerja Indonesia dianggap paling ramah diantara pekerja asing lainnya namun paling rentan juga dieksploitasi.

Modus lain ialah pekerja seks, pengantin pesanan, pekerja anak, adopsi anak, duta seni/budaya/beasiswa, penculikan anak/bayi/remaja,kerja paksa, perbudakan, pengambilan organ tubuh.

"Umumnya, korbannya perempuan dan anak. Mereka warga negara yang bisa diperlakukan seenaknya. Faktor kemiskinan dan korupsi, penegakan hukum yang lemah dan jual beli KTP atau paspor palsu memicu maraknya perdagangan orang," ungkapnya.

(Fransiskus Dasa Saputra)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement