JAKARTA - Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki sejumlah pelabuhan tak resmi yang seringkali dijadikan pintu masuk penyelundupan narkoba.
Kasubdit humas Bea Cukai, Haryo Limansetyo menegaskan, pihaknya hanya berwenang memantau pintu masuk pelabuhan serta bandara yang resmi.
"Titik perbatasan banyak, kita kesulitan kalau tidak pakai pelabuhan resmi, nah di situ kita koordinasi dengan intelijen," ujar Haryo di kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Jumat (28/8/2015).
Meski demikian, Haryo mengaku, selama semester pertama 2015, pihaknya telah menindak 103 kasus penyelendupan narkoba. Dari perkara tersebut, ia memastikan bahwa angka tertinggi seringkali berasal dari bandara Soekarno-Hatta.
"Justru yang paling banyak masuknya dari Cengkareng, hampir tiap 3-4 kali per pekan ada penyelundupan narkoba," imbuhnya.

Haryo menambahkan, modus yang digunakan oleh para pemasok narkoba ialah menggunakan kurir yang disamarkan sebagai penumpang.
Sebab itu, pihaknya menjamin telah memiliki sistem analisa para pengguna transportasi udara.
"Dibanding lewat kargo, banyak yang nyamar jadi penumpang (kurirnya). Kita punya prosedur, analisa penumpang yang akan datang. Dan pada saat tiba kita pelajari," pungkasnya.
(Rizka Diputra)