Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

30 September: DI Pandjaitan Terdiam Dengar Lagu Gugur Bunga

Randy Wirayudha , Jurnalis-Rabu, 30 September 2015 |06:46 WIB
30 September: DI Pandjaitan Terdiam Dengar Lagu Gugur Bunga
Mayjen (Anumerta) Donald Isaac Pandjaitan (Foto: Repro Buku Tujuh Prajurit TNI Gugur/Randy Wirayudha)
A
A
A

TELAH gugur pahlawanku, tunah sudah janji bakti. Gugur satu tumbuh seribu, tanai air jaya sakti…,” begitu petikan lagu ‘Gugur Bunga’ nan sendu. Lagu itu pula musik terakhir yang didengarkan Brigjen TNI Donald Isaac Pandjaitan pada 30 September 1965, jelang tragedi keesokan harinya, 1 Oktober 1965.

Lagu tersebut dinyanyikan paduan suara Sekolah Tarakanita dalam gelaran Musyawarah Besar Teknik (Mubestek) di Istora Senayan, 30 September 1965 malam, di mana salah satu anggota paduan suaranya adalah Catherine, putri sulung Jenderal DI Pandjaitan.

Pejabat Asisten IV Menpangad bidang Logistik itu mendengarkan lagu itu dalam hening dan tenggelam dalam diam via televisi, bersama anggota keluarga yang lain di ruang tamu rumah mereka, Jalan Sultan Hasanuddin, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

“Itu kan lagu tentang para pahlawan yang gugur di medan tempur. Coba bayangkan bagaimana perasaan keluarga yang ditinggalkan,” celetuk Masya Arestina, salah satu putri DI Pandjaitan. “Ya sedih, lah,” jawab sang Ayah singkat, sebagaimana yang dikutip dari buku ‘Tujuh Prajurit TNI Gugur: 1 Oktober 1965’.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement