"Pada praktiknya juga ada banyak petani yang mati. Saya bekerja sadar resiko itu yang cukup menguatkan saya untuk bertahan hidup dan juga melakukan pendampingan baik di bidang hukum terhadap para petani ini," kata Eva.
Eva mengaku kerap mengajak putra-putrinya ketika ingin berdemonstrasi untuk melakukan perlawanan kepada para kapitalis. Tak jarang, lanjut dia, demonstrasi itu juga dilakukan saat dirinya tengah berbadan dua.
"Saya secara tidak langsung mengajarkan anak-anak saya untuk berdemonstrasi. Bahkan, saat saya hamil makanya terkadang kalau saya demo anak-anak juga sering ikut, kalau tidak diajak mereka suka ngambek," kata Eva berseloroh.
Bagi seorang ibu, ada perasaan sedih menghinggapi Eva saat dirinya bersama 24 para aktivis pejuang agraria lainnya dipenjara lantaran dituduh sebagai provokator warga saat melakukan advokasi hukum bagi kaum tani. Saat itu, sang suami mesti harus memindahkan anaknya ke sekolah lain karena menjadi korban bully, sebab sang ibu yang dipenjara.
"Ada perasaan sedih saat saya dipenjara waktu itu. Anak saya tidak mau sekolah, suami mesti pindahkan dia ke sekolah lainnya karena dia di-bully sebab ibunya yang dipenjara. Kalau untuk psikologis saya yakin mereka lebih dewasa dari usianya karena proses pendewasaan itu saya ajarkan sejak dini yang memang ibunya berlatar belakang aktivis," pungkasnya.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.